Mohon maaf atas tidak aktifnya saya di blog karena sesuatu dan lain hal. Kali ini saya kembali dengan pembahasan literatur dari New England Journal of Medicine, publikasi 18 November 2010.

Topik yang diangkat oleh Kromhout et al adalah tentang suplementasi asam lemak omega-3 untuk penderita yang telah mengalami infark miokard, dan dinilai bagaimana keluaran kardiovaskularnya setelah 40 bulan diberi suplemen tersebut. Sebagaimana telah diketahui, suplementasi rutin asam lemak omega-3 dalam jumlah kecil memberi efek proteksi kardiovaskular bagi orang yang belum pernah mengalami infark miokard; namun efek bagi orang yang sudah mengalaminya belum diketahui pasti. Penelitian dilakukan multisenter terhadap 4.837 pasien berumur 60-80 tahun yang pernah mengalami infark miokard dan saat penelitian dimulai sedang mengkonsumsi obat-obatan antihipertensi, antitrombotik, dan obat hipolipidemik. Intervensi berupa empat macam margarin; yaitu margarin dengan EPA dan DHA 400 mg; margarin dengan ALA 2 gram, margarin dengan EPA-DHA 400 mg dan ALA 2 gram; serta margarin plasebo. Penilaian dilakukan terhadap kejadian kardiovaskular, baik fatal maupun tidak; dan kebutuhan tindakan intervensi kardiovaskular. Ternyata tidak satupun margarin yang memberi efek proteksi menonjol dibandingkan margarin lainnya.  Kelompok yang mendapat margarin EPA-DHA memiliki hazard ratio 1.01 (95% CI, 0.87-1.17; p=0.93); kelompok ALA 0.91 (95% CI, 0.78-1.05, p=0.20). Mereka berkesimpulan bahwa suplementasi asam lemak omega-3 dalam jumlah kecil tidak memberikan efek protektif terhadap kejadian kardiovaskular pada penderita dengan riwayat infark miokard.

 

Literatur acuan:

Kromhout D, Giltay EJ, Geleijnse JM. n-3 Fatty Acids and Cardiovascular Events after Myocardial Infarction. N Engl J Med 2010; 363: 2015-26.