November 2010


Penelitian baru dari jurnal Pediatrics, publikasi online per 15 November 2010.

Dalam jurnal ini dibahas tentang perilaku buruk remaja dan kebiasaan bermain game. Permainan modern berupa video game diketahui dapat berpengaruh buruk pada anak dan remaja. Namun literatur yang meneliti secara khusus korelasi antara video game dan permasalahan hidup akibat video game belum ada. Untuk itulah Desai et al melakukan penelitian terhadap 4028 remaja. Di antara mereka, 51.2% merupakan pemain video game (76,3% anak laki-laki dan 29,2% anak perempuan). Pada anak laki-laki tidak ditemukan kaitan antara game dan perilaku kesehatan yang negatif (termasuk kebiasaan merokok, pemakaian narkoba, depresi, dan perkelahian). Namun pada anak laki-laki, game lebih sering berkaitan dengan perkelahian dan perilaku membawa senjata ke sekolah; dibandingkan anak perempuan. Selain itu, game lebih cenderung menimbulkan kecanduan pada anak laki-laki (5.8%) daripada anak perempuan (3.0%). Secara umum prevalensi perilaku buruk akibat game cukup rendah dan tidak begitu signifikan dalam populasi; namun dampak yang dapat terjadi mungkin lebih dari itu. Penelitian yang lebih besar mungkin pula diperlukan untuk menentukan batas aman bermain game, cara mencegah, dan mengatasi perilaku buruk akibat bermain game.

Referensi:

Desai RA, Khrisnan-Sarin S, Cavallo D, et al.  Video-Gaming Among High School Students: Health Correlates, Gender Differences, and Problematic Gaming. Pediatrics 2010; 126: e1414-e1424.

Mohon maaf atas tidak aktifnya saya di blog karena sesuatu dan lain hal. Kali ini saya kembali dengan pembahasan literatur dari New England Journal of Medicine, publikasi 18 November 2010.

Topik yang diangkat oleh Kromhout et al adalah tentang suplementasi asam lemak omega-3 untuk penderita yang telah mengalami infark miokard, dan dinilai bagaimana keluaran kardiovaskularnya setelah 40 bulan diberi suplemen tersebut. Sebagaimana telah diketahui, suplementasi rutin asam lemak omega-3 dalam jumlah kecil memberi efek proteksi kardiovaskular bagi orang yang belum pernah mengalami infark miokard; namun efek bagi orang yang sudah mengalaminya belum diketahui pasti. Penelitian dilakukan multisenter terhadap 4.837 pasien berumur 60-80 tahun yang pernah mengalami infark miokard dan saat penelitian dimulai sedang mengkonsumsi obat-obatan antihipertensi, antitrombotik, dan obat hipolipidemik. Intervensi berupa empat macam margarin; yaitu margarin dengan EPA dan DHA 400 mg; margarin dengan ALA 2 gram, margarin dengan EPA-DHA 400 mg dan ALA 2 gram; serta margarin plasebo. Penilaian dilakukan terhadap kejadian kardiovaskular, baik fatal maupun tidak; dan kebutuhan tindakan intervensi kardiovaskular. Ternyata tidak satupun margarin yang memberi efek proteksi menonjol dibandingkan margarin lainnya.  Kelompok yang mendapat margarin EPA-DHA memiliki hazard ratio 1.01 (95% CI, 0.87-1.17; p=0.93); kelompok ALA 0.91 (95% CI, 0.78-1.05, p=0.20). Mereka berkesimpulan bahwa suplementasi asam lemak omega-3 dalam jumlah kecil tidak memberikan efek protektif terhadap kejadian kardiovaskular pada penderita dengan riwayat infark miokard.

 

Literatur acuan:

Kromhout D, Giltay EJ, Geleijnse JM. n-3 Fatty Acids and Cardiovascular Events after Myocardial Infarction. N Engl J Med 2010; 363: 2015-26.