Penanganan terhadap batu saluran kemih berbeda-beda, tergantung pada tempat di mana batu itu ditemukan.

Berikut ini penulis berhasil merangkum sejumlah modalitas terapi yang dapat menjadi alternatif untuk kasus batu saluran kemih, dengan mempertimbangkan lokasi batu dan ukuran diameter batu (dinilai dari foto Rontgen). Sumbernya dari berbagai web dan textbook tentang urologi. Jika ada tulisan yang kurang tepat atau perkembangan yang lebih modern, bisa ditambahkan di bagian komentar.

1. Batu ginjal (di calix/pyelum)

Diameter batu < 5 mm: terapi konservatif (banyak minum, diuretik dan antispasmodik, dan ditunggu 6 bulan, lalu pasien diminta foto Rontgen ulang agar dokter dapat menilai batunya).

Diameter batu 5-20 mm: nefrolitotripsi lewat kulit (percutaneous nephrolitotripsy, PCN) atau ESWL (extracorporeal shockwave lithotripsy)

Diameter batu > 20 mm: operasi terbuka (pielolitotomi, nefrolitotomi), dengan ataupun tanpa radiasi.

2. Batu ureter

1/3 pangkal (proksimal)

*2 cm atau kurang: ESWL atau litotripsi dengan tabung pneumatik.
*lebih dari 2 cm: uretrorenoskopi (URS) atau ureterolitotomi (operasi terbuka).

1/3 tengah

*2 cm atau kurang: litotripsi pneumatik, atau dorong batu ke ginjal untuk di-ESWL.
*lebih dari 2 cm: ureterolitotomi.

1/3 ujung (distal)

*2 cm atau kurang: litotripsi pneumatik, atau tarik batu ke kandung kemih untuk di-ESWL.
*lebih dari 2 cm: ureterolitotomi.

3. Batu kandung kemih (vesica urinaria)

Kurang dari 10 mm: konservatif

*10-20 mm: vesikolitotripsi lewat uretra

*lebih dari 20 mm: vesikolitotomi (operasi terbuka)

4. Batu uretra

*1/3 belakang (posterior): dorong batu ke kandung kemih dengan kateter, lalu pakai anestesi lokal (xylocaine), lakukan vesikolitotripsi transuretral.

*1/3 tengah dan depan (anterior): tarik keluar batu lewat muara uretra. Kalau tidak bisa, bantu dengan meatotomi. Jika masih gagal, coba cara seperti batu uretra letak 1/3 posterior. Dan jika gagal juga, lakukan operasi terbuka (uretrolitotomi).

(hnz)