October 2009


Welcome to my 100th post!!! Well… sori jika sekarang gw jarang nulisin blog ini… Selain lagi ada kesibukan lain, juga masih mau nyari2 inspirasi, mau nulis tentang apa nih…?

Buat postingan ke-100 ini gw milih nulis tentang forum. Saat ini gw baru ikutan di beberapa forum. Mulai dari forum general sampai forum profesi (yah, tapi belum aktif…). Oh ya, di antara forum2 yg gw ikutin, gw paling banyak aktif di forum IDWS (Indowebster). Ini nih logonya… Bisa diklik untuk menuju ke forum IDWS… 😀

idwsv4b

Alasannya? Selain karena forumnya menggunakan server lokal yang cocok dengan sebagian besar IP (internet provider) di Indonesia – sehingga untuk download kecepatannya lebih tinggi daripada sumber server asing -, juga karena tema yang tersedia di forumnya cukup menarik. Memang tidak terlalu banyak tapi cukup untuk meng-cover tema-tema yang banyak diminati masyarakat… 😀 Di sana terdapat berbagai subforum seperti musik, anime-manga-comic (gw ga ikutan yg ini…hehehe), TV dan cinema, computer, webmaster, hangout places, sports, ilmu pengetahuan, sampai corner (yang isinya pictures gallery, lifestyle, dan komunitas untuk menjalin keakraban sesama members dengan topik2 yg lagi hangat). Oh ya… ada juga room buat meramu-meracik buat yg hobi masak-memasak. Buat para newbie (pendatang / user baru) juga tersedia subforum kritik saran dan pertanyaan dan halaman FAQ yang wajib dibaca sebelum mulai ber-forum.

Hm… sepertinya segitu aja dech review tentang forum IDWS-nya dari gw… Buat yang tertarik, bisa klik gambar logo IDWS di atas untuk melihat2 forumnya secara langsung. Siapa tahu beneran tertarik dan berminat jadi member?

(hnz)

Advertisements

Hm… kmaren menjelang uji kompetensi, gw sempat ngerangkum sebagian catatan mata di zaman preklinik. Yah, memang catatan ini jadinya tidak terlalu lengkap karena tujuannya hanya untuk review buat UKDI… jadi harap maklum… Dan covernya… sebenarnya cover itu sudah dirancang, tapi anehnya waktu convert file ke PDF, eh rancangannya hilang semua. Hiks…. Buku ini juga belum ber-ISBN, jadi tidak apa-lah kalau gw tampilkan gratis.

covermata

Buat teman2 sejawat yang berminat dengan catatan oftalmologi ini, bisa didownload dengan meng-click cover bukunya (filetype PDF, size 4.7 MB). Maaf kalau semuanya serba pas-pasan… Semoga bermanfaat.

(hnz)

Ada dua cara pencegahan tetanus pada seseorang yang terluka, yaitu dengan memberinya imunisasi dengan tetanus toxoid (TT, yang isinya racun bakteri tetanus alias Clostridium tetani yang dilemahkan) atau dengan memberinya serum antitoksin (pilihannya ATS atau imunoglobulin). Sekarang ATS sudah mulai ditinggalkan karena sering memicu reaksi alergi. Adapun imunoglobulin khusus untuk tetanus adalah human tetanus immunoglobulin atau HTIG.

Tapi tidak semua luka perlu mendapat pencegahan tetanus. Cara menilai apakah seseorang membutuhkan pencegahan adalah sebagai berikut:

  1. Nilailah apakah luka kotor atau tidak. Luka baru disebut kotor kalau lukanya bersifat luka tusuk (tertusuk paku, tertusuk benda tajam, dan sejenisnya), luka disertai patah tulang terbuka, luka digigit hewan (seperti anjing atau ikan hiu), luka yang tercemar tanah atau tinja (tinja binatang termasuk), atau luka yang sudah berbau busuk dan banyak nanahnya. Selebihnya, kalau cuma luka lecet atau luka goresan, dianggap luka bersih.
  2. Tanyakan ke korban luka tersebut, kapan terakhir dia mendapat vaksinasi TT. Kebanyakan orang pasti lupa. Kalau sampai si korban menjawab lupa (atau kita tidak bisa mengetahuinya karena suatu dan lain hal), anggap saja si korban belum pernah dapat imunisasi sama sekali. Satu kali vaksinasi TT “berkhasiat” selama 10 tahun. Jadi jika seseorang ingat dirinya pernah divaksin TT dalam 10 tahun terakhir, dia dianggap sudah vaksin TT.

Setelah menentukan jenis luka dan riwayat vaksinasinya, barulah ditentukan apakah metode pencegahan yang akan diberikan kepada si korban luka.

  • Luka bersih, vaksinasi TT terakhir < 10 tahun yang lalu: Tidak usah diberi apa-apa.
  • Luka bersih, vaksinasi TT terakhir > 10 tahun yang lalu atau tidak diketahui: berikan vaksinasi TT 0.5 mL.
  • Luka kotor, vaksinasi TT terakhir < 10 tahun yang lalu: Berikan imunoglobulin 250-500 unit jika lukanya benar-benar kotor.
  • Luka kotor, vaksinasi TT terakhir > 10 tahun yang lalu atau tidak diketahui: berikan vaksinasi TT 0.5 mL dengan imunoglobulin 250-500 unit. Berikan keduanya di tempat terpisah karena efek imunoglobulin dapat menetralkan TT. Biasanya satu di lengan kanan dan yang satu lagi di lengan kiri.

(hnz)

Penanganan terhadap batu saluran kemih berbeda-beda, tergantung pada tempat di mana batu itu ditemukan.

Berikut ini penulis berhasil merangkum sejumlah modalitas terapi yang dapat menjadi alternatif untuk kasus batu saluran kemih, dengan mempertimbangkan lokasi batu dan ukuran diameter batu (dinilai dari foto Rontgen). Sumbernya dari berbagai web dan textbook tentang urologi. Jika ada tulisan yang kurang tepat atau perkembangan yang lebih modern, bisa ditambahkan di bagian komentar.

1. Batu ginjal (di calix/pyelum)

Diameter batu < 5 mm: terapi konservatif (banyak minum, diuretik dan antispasmodik, dan ditunggu 6 bulan, lalu pasien diminta foto Rontgen ulang agar dokter dapat menilai batunya).

Diameter batu 5-20 mm: nefrolitotripsi lewat kulit (percutaneous nephrolitotripsy, PCN) atau ESWL (extracorporeal shockwave lithotripsy)

Diameter batu > 20 mm: operasi terbuka (pielolitotomi, nefrolitotomi), dengan ataupun tanpa radiasi.

2. Batu ureter

1/3 pangkal (proksimal)

*2 cm atau kurang: ESWL atau litotripsi dengan tabung pneumatik.
*lebih dari 2 cm: uretrorenoskopi (URS) atau ureterolitotomi (operasi terbuka).

1/3 tengah

*2 cm atau kurang: litotripsi pneumatik, atau dorong batu ke ginjal untuk di-ESWL.
*lebih dari 2 cm: ureterolitotomi.

1/3 ujung (distal)

*2 cm atau kurang: litotripsi pneumatik, atau tarik batu ke kandung kemih untuk di-ESWL.
*lebih dari 2 cm: ureterolitotomi.

3. Batu kandung kemih (vesica urinaria)

Kurang dari 10 mm: konservatif

*10-20 mm: vesikolitotripsi lewat uretra

*lebih dari 20 mm: vesikolitotomi (operasi terbuka)

4. Batu uretra

*1/3 belakang (posterior): dorong batu ke kandung kemih dengan kateter, lalu pakai anestesi lokal (xylocaine), lakukan vesikolitotripsi transuretral.

*1/3 tengah dan depan (anterior): tarik keluar batu lewat muara uretra. Kalau tidak bisa, bantu dengan meatotomi. Jika masih gagal, coba cara seperti batu uretra letak 1/3 posterior. Dan jika gagal juga, lakukan operasi terbuka (uretrolitotomi).

(hnz)