Anda pasti sudah pernah melihat gambar-gambar ilusi. Misalnya gambar anak tangga yang berputar terus (tentu saja ini tidak mungkin), gambar diam namun tampak bergerak-gerak, atau benda berwarna putih namun tampak berwarna hijau. Padahal sebenarnya tidak. Namun kitalah yang memiliki persepsi gambar tersebut tampak demikian. Bagaimana ini bisa terjadi?

Manusia dengan penglihatan normal selalu menggunakan penglihatan binokular alias dengan kedua mata untuk melihat benda. Penglihatan binokular ini lebih bersifat stereoskopis dan 3-dimensi. Banyak faktor juga turut mempengaruhi bagaimana seorang manusia mempersepsikan apa yang dilihatnya. Misalnya ukuran benda, cahaya di sekitarnya, intervensi cahaya lain, panjang dan ukuran bayangan, aspek perspektif, sudut pandang, akomodasi mata, dan usaha konvergensi penglihatan (agar benda yang dilihat tampak jelas). Bagaimana cara kita tahu bahwa kita melihat dengan kedua mata? Coba letakkan jari tangan Anda hanya beberapa sentimeter di depan hidung Anda. Setelah itu coba lihat benda yang letaknya jauh. Anda akan melihat jari tadi tampak kabur dan agak transparan; dan jumlahnya dua. Berarti bayangan benda yang kita lihat jatuh di kedua retina.

Saat baru saja melihat suatu benda, bayangan langsung jatuh di retina dan disebut sebagai after-image. Setelah itu akan terjadi distribusi bayangan menuju ke otak untuk diproses supaya kita tahu apa yang kita lihat. Namun dalam pembentukan bayangan pertama yang terfokus, proses ini tidak terlepas dari pembentukan bayangan di luar lapang pandangan. Meskipun mata langsung ditutup setelah melihat benda, kita masih bisa melihat sebentar benda yang tadi kita lihat. Di sinilah faktor persepsi tiga dimensi dan jarak relatif masih dapat mempengaruhi persepsi penglihatan. Akibatnya ketika pertama kali melihat benda datar yang sebenarnya tiga dimensi; kita terkecoh dan merasa benda itu dua dimensi. Padahal begitu ditelaah lagi (kita lihat lebih lanjut dan kita mengamati dari sudut pandang berbeda), eh benda itu tiga dimensi!

Sama juga halnya dengan mengukur jarak dan ukuran relatif benda. Mata kita mudah tertipu oleh panjang benda yang berada dalam arah berbeda. Paling sederhana, coba Anda bandingkan benda yang dipasang dalam posisi vertikal dan benda dalam posisi horizontal. Kita sering mengestimasi jarak vertikal 25% lebih besar daripada jarak horizontal yang sama. Demikian pula kalau kita melihat jarak dan ukuran relatif benda hanya dengan satu mata; melihat benda dengan posisi kepala terbalik, atau dalam posisi terbaring.

Untuk melihat sejumlah gambar ilusi, silakan buka http://www.123opticalillusions.com/ dan nikmatilah sendiri.

(hnz)