Maaf karena lagi-lagi tentang kematian…. Namun jika membicarakan Formula 1, tentu tidak lepas dari pembicaraan tentang keamanan balapan mobil dengan kecepatan super tinggi ini. Mengapa Ayrton Senna (GP San Marino 1994) yang tabrakannya terlihat ringan, justru lebih fatal daripada tabrakan Robert Kubica (GP Kanada 2007) yang kelihatannya jauh lebih mengerikan? Inilah 10 dari sekian banyak kematian dalam sejarah Formula 1 yang “membentuk” keamanan Formula 1 seperti sekarang ini.

10) Lorenzo Bandini (1935-1967), driver Italia, meninggal di GP Monako 1967. Setelah hilang kontrol atas mobilnya di sebuah chicane, ban belakang mobilnya mengenai pembatas jalan dan membuat mobil Bandini berputar-putar sampai menabrak sebuah tiang dan berbalik. Tiang tersebut jatuh dan menembus tangki bahan bakar, sehingga terjadilah kebakaran yang sekaligus membuat Bandini terperangkap. Mobil selanjutnya meledak karena uap panas dari pipa pembuangan gas bahan bakar. Bandini mengalami luka bakar hebat dan dirawat di rumah sakit setempat selama 3 hari, sebelum akhirnya meninggal pada 10 Mei 1967.

Trivia: Sejak tahun 1992, setiap tahun trofi Lorenzo Bandini dipersembahkan untuk tokoh yang berpengaruh di dunia Formula 1. Lorenzo Bandini trophy untuk 2008 didapat oleh Sebastian Vettel.

9) Roger Williamson (1948-1973), driver Inggris, meninggal di GP Belanda 1973. Setelah salah satu ban mobilnya mendadak kehilangan tekanan dan kempis, Williamson menabrak sebuah tembok pembatas dengan kecepatan tinggi dan terseret sejauh 275 meter. Mobil berakhir dalam posisi terbalik dan tangki bahan bakarnya pun mulai terbakar. Williamson mencoba namun tidak dapat melepaskan diri dari mobilnya. Seorang pembalap lain, David Purley (1945-1985) menghentikan mobilnya dengan sukarela dan berusaha membantu Williamson keluar dari mobilnya; namun usahanya juga gagal karena posisi mobil yang terbalik. Celakanya para marshal menduga justru mobil Purley yang mengalami kecelakaan. Begitu mengetahui kondisi yang sebenarnya, marshal pemadam api (kebetulan juga tidak terlatih) tidak berhasil pula menolong Williamson. Mobil pemadam yang lebih besar baru datang hampir 10 menit kemudian, di mana Williamson sudah lebih dulu tewas akibat asfiksia.

Trivia:

  • Foto David Purley saat sedang berusaha keras menyelamatkan Williamson, yang diambil oleh Cor Mooij, memenangkan penghargaan World Press Photo pada tahun 1974. Purley sendiri kemudian juga mendapat penghargaan medali George atas keberaniannya tersebut.
  • Sejarah serupa hampir terulang pada Niki Lauda (1949-). Pembalap Austria ini nyaris tewas karena luka bakar hebat, akibat kesulitan keluar dari mobilnya setelah kecelakaan pada GP Jerman (Nurburgring – Nordschleife) 1976. Ia juga ditolong oleh tiga orang pembalap yang berhenti secara sukarela; namun kali ini mereka berhasil. Lauda sempat mengalami koma, namun kemudian sembuh (dengan bekas luka cukup luas di kepalanya) dan menjadi juara dunia 2 kali lagi (1977 dan 1984).

8) Helmuth Koinigg (1948-1974), driver Austria, meninggal di GP Amerika Serikat 1974. Kematian akibat pemasangan logam pembatas Armco yang tidak tepat. Pembalap ini baru saja memasuki GP start kedua dalam karirnya. Setelah mengalami gagal suspensi di daerah tikungan lambat, mobilnya menabrak tembok pembatas Armco dengan posisi kepala Koinigg membentur tembok terlebih dahulu. Kecepatan mobilnya rendah; namun karena Armco yang tidak terpasang dengan baik (ujungnya yang tajam masih terlihat!), logam pembatas yang tajam itu pun mencederai leher Koinigg sampai kepalanya terpenggal (!!!).

Trivia: Sirkuit Indianapolis (IN, Amerika Serikat) merupakan sirkuit yang paling banyak memakan korban pembalap.

7) Tom Pryce (1949-1977), driver Wales, meninggal di GP Afrika Selatan 1977. Kematian paling aneh di sirkuit F1 dari tinjauan sebab: tertimpa tangki pemadam api seberat 20 kg! Adalah Renzo Zorzi yang baru saja mengalami kecelakaan; akibat pengukur bahan bakarnya rusak. Ia memarkir mobilnya di sisi kiri trek lurus. Zorzi kesulitan keluar dari mobil karena gagal melepaskan pipa oksigen dari helmnya; namun bagian belakang mobilnya sudah mengeluarkan api. Ini membuat Zorzi membutuhkan bantuan 2 orang marshal dari seberang trek untuk memadamkan api dari mobilnya. Dua marshal itu pun menyeberang trek yang sedang dilalui mobil F1 tanpa izin (!). Marshal pertama lolos. Namun marshal kedua, Fredrik Jansen van Vuuren (19 tahun) – yang membawa tangki pemadam api seberat 20 kg – tertabrak oleh mobil Pryce (dengan kecepatan 270 km/jam). Pryce menabrak van Vuuren karena pandangannya terhalang oleh mobil Hans-Joachim Stuck (yang hampir menabrak van Vuuren juga, namun berhasil menghindar di detik terakhir). Van Vuuren terlempar ke udara, dengan tubuh hancur (sampai tidak dapat dikenali), dan tewas seketika. Sedangkan Pryce, yang mendadak tertimpa tangki pemadam, tewas seketika karena benda berat itu hampir memutuskan kepalanya (!!). Ia pun terlempar keluar dari mobil. Mobil Pryce masih berjalan tanpa driver sejauh beberapa ratus meter.

Trivia: Sampai sekarang Pryce masih menjadi satu-satunya pembalap Wales yang pernah memimpin balapan F1.

6) Ronnie Peterson (1944-1978), driver Swedia, meninggal di rumah sakit setelah kecelakaan GP Italia 1978. Peterson baru saja mengalami kecelakaan tabrakan beruntun di belokan pertama GP Italia 1978, yang melibatkan 9 pembalap lainnya. Ia hanya mengalami cedera tungkai; yang relatif “ringan” jika dibandingkan dengan Vittorio Brambilla yang mengalami koma akibat kepalanya tertimpa ban “terbang”. Peterson dilarikan ke rumah sakit Milan untuk diperiksa. Ternyata ia mengalami beberapa patah tulang di tungkainya. Ia pun dijadwalkan untuk dioperasi keesokan paginya. Namun sebelum pagi tiba, Peterson mengalami emboli lemak yang bersumber dari daerah patah tulang di tungkainya; dan meninggal Senin (11 September) pagi.

Trivia: Omong-omong, Vittorio Brambilla justru akhirnya sembuh dan bisa membalap lagi.

5) Gilles Villeneuve (1950-1982), driver Kanada, meninggal di kualifikasi GP Belgia 1982. Karena ngotot ingin mengalahkan waktu kualifikasi rekan setimnya, Didier Pironi, Villeneuve keluar untuk mencatatkan waktu. Dalam perjalanan, ia bertemu mobil lambat di jalur kiri. Mobil Jochen Mass. Mereka pun mengalami miskomunikasi: Mass yang mengira Villeneuve akan mencatat waktu, bermaksud membiarkannya lewat dengan bergerak ke kanan. Villeneuve yang berniat mendahului Mass (yang tadinya ada di jalur kiri) segera membelokkan mobil ke kanan. Mereka bertabrakan di jalur kanan. Mobil Villeneuve, yang berada di belakang, terbang ke udara dan mendarat (hidung lebih dulu) dengan kecepatan 225 km/jam. Villeneuve masih terseret sejauh 50 meter ke arah pagar kait di pinggir trek; di mana lalu ia tersangkut dan mengalami patah leher. Ia langsung dibawa ke rumah sakit St.Raphael University, dan sempat dipertahankan hidup selama beberapa jam sebelum akhirnya meninggal sekitar pukul 9 malam waktu setempat.

Trivia: Jacques Villeneuve (anak Gilles yang kemudian menjadi juara dunia F1 1997) baru berusia 9 tahun sewaktu ayahnya meninggal.

4) Riccardo Paletti (1958-1982), driver Italia, meninggal di GP Kanada 1982. Ia baru saja melakukan start GP-nya yang kedua. Karena gangguan koordinasi marshal, lampu kuning tidak dihidupkan setelah Didier Pironi (lagi-lagi!) stalled on grid saat start. Paletti terlambat merespons dan hidung mobilnya menabrak bagian belakang mobil Pironi. Ia mengalami benturan di dada dan tidak sadarkan diri. Mobil Paletti selanjutnya mengalami kebakaran, dan ia pun mengalami asfiksia akibat asap karena terperangkap dalam mobil (sampai para marshals pun butuh setengah jam untuk mengeluarkan Paletti). Ia meninggal setibanya di rumah sakit Royal Victoria di Montreal; 2 hari sebelum ultahnya yang ke-24.

Trivia: Kematian Paletti disaksikan langsung oleh ibunya yang sengaja terbang ke Kanada untuk merayakan ulang tahun anaknya yang ke-24.

3) Elio De Angelis (1958-1986), driver Italia, meninggal dalam uji coba mobil di sirkuit Paul Ricard, Le Castellet, Prancis usai GP Monako 1986. Mobil De Angelis mengalami kebakaran setelah tabrakan, dengan kondisi downforce mendadak hilang akibat lepasnya sayap belakang mobil. Ia hanya mengalami luka bakar ringan dan patah tulang selangka, namun De Angelis tidak dapat keluar dari mobilnya. Apalagi di sirkuit yang bersangkutan hampir tidak ada marshal yang bersiap di tempat. Marshal baru datang 30 menit kemudian dengan helikopter (!!!!), dan melarikan De Angelis ke rumah sakit Marseille. Ia pun meninggal di sana 29 jam kemudian.

Trivia: Rancangan fisik helm De Angelis kemudian dipakai oleh Jean Alesi.

2) Roland Ratzenberger (1960-1994), driver Austria, meninggal di kualifikasi GP San Marino 1994. Ratzenberger yang baru saja membalap 1 kali di F1, mengalami kerusakan sayap depan mobil di putaran kualifikasi sebelumnya. Akibat kecepatan yang tinggi, ditambah tekanan angin, sayap depan tersebut patah dan tersangkut di bawah mobilnya. Mobil Ratzenberger pun tidak dapat membelok dan membentur tembok solid dengan kecepatan 315 km/jam. Setelah tabrakan, mobil berputar-putar kembali ke trek, dan terlihat jelas bahwa Ratzenberger mengalami patah leher yang langsung menewaskannya di tempat.

Trivia: Perangkat keselamatan HANS yang diwajibkan oleh FIA bagi seluruh pembalap F1 sejak 2001, dibuat untuk mencegah kecelakaan yang serupa dengan Ratzenberger.

Dan yang paling akhir plus paling heboh dan misterius….

1) Ayrton Senna da Silva (1960-1994), driver Brazil, meninggal di GP San Marino 1994; merupakan kematian di sirkuit F1 yang terakhir; sekaligus paling berpengaruh dalam F1 modern. Kecelakaan yang menandai akhir riwayat ban dengan suspensi aktif, sekaligus membuat keamanan balapan F1 ditingkatkan dengan sangat serius dan ketat dalam 15 tahun terakhir.

Juara dunia 3 kali ini start dari pole position. Sesaat setelah start, Pedro Lamy dan Jyrki Jarvilehto mengalami tabrakan yang mengakibatkan keluarnya safety car. Safety car keluar selama 5 putaran. Pada 2 putaran berikutnya, mobil Senna terlihat understeer dan keluar jalur mendadak di tikungan Tamburello, dengan kecepatan 310 km/jam, lalu menghantam tembok solid.

Sebab kematian Senna yang sebenarnya masih misterius. Senna disebutkan mengalami luka tembus akibat patahan suspensi yang menembus helm dan bagian depan tengkoraknya. Ironisnya video yang merekam momen tabrakan sepanjang 1.5 detik ternyata hilang. Damon Hill, rekan setim Senna di Williams pada tahun 1994; bersikeras bahwa Senna telah melakukan kesalahan biasa, namun fatal. Sebagian penggemar berat Senna menduga ada konspirasi yang bertujuan membunuh pembalap berusia 34 tahun tersebut. Banyak juga yang memperdebatkan apakah Senna meninggal spontan atau di rumah sakit; karena ia tidak dinyatakan meninggal di trek. Pernah juga dilaporkan bahwa video itu ternyata ada dan memperlihatkan Senna “melepas” setir seusai mobilnya melintir (namun video ini pun dipertanyakan keasliannya). Bagaimanapun kejadian sebenarnya, tragedi ini telah mengubah pandangan FIA terhadap keselamatan di lingkup Formula 1.

Trivia:

  • Ban suspensi aktif memakan banyak korban pembalap cedera pada tahun 1994. Selain Rubens Barrichello, Roland Ratzenberger, dan Senna sendiri pada GP San Marino; Jyrki Jarvilehto (alias JJ Lehto) mengalami cedera punggung pada Januari 1994. Karl Wendlinger menyusul pada GP Monako dan selanjutnya Andrea Montermini (pembalap yang menggantikan Ratzenberger) yang mengalami patah kaki di GP Spanyol.
  • Sesaat sebelum balapan, Senna sempat berpikir untuk pensiun karena ia sangat keberatan dengan sistem keamanan F1 1994 yang menurutnya, sangat buruk.
  • Sejak kematian Senna, tikungan Tamburello yang sebenarnya telah menjadi ciri khas sirkuit Imola, langsung diubah menjadi chicane demi tujuan keamanan.
  • Setelah bendera merah dikibarkan akibat insiden Senna, Erik Comas (mobil Larrousse) malah masuk ke sirkuit dan membalap kembali. Kejadian lucu ini sempat membuat bingung para marshal dan komentator televisi.
  • Dalam kokpit mobil Senna ternyata ada gulungan bendera Austria. Tampaknya jika ia menang, Senna ingin mempersembahkan kemenangan ini untuk Ratzenberger. Tapi justru ia pergi menyusul pembalap tim Simtek asal Austria tersebut.
  • Setelah kematian Senna, keamanan pembalap benar-benar ditingkatkan dengan serius; sehingga sampai sekarang tidak ada pembalap lagi yang meninggal di balapan. Ada sejumlah kecelakaan buruk lain yang terjadi setelah Senna (paling tidak menurut pengamatan penulis sejak mulai mengikuti F1); antara lain Fernando Alonso yang menabrak “ban lepas” dari mobil Mark Webber (GP Brasil 2003), kecelakaan jungkir balik Jarno Trulli (GP Inggris 2004) dan Nick Heidfeld (GP Amerika Serikat 2006); serta kecelakaan hebat yang menghancurkan mobil Robert Kubica (GP Kanada 2007).

(Sumber: Rangkuman dari beberapa artikel wikipedia)

(hnz)