Diabetes melitus merupakan penyakit gangguan fungsi insulin, yang menyebabkan glukosa yang dikonsumsi tidak dapat dipakai oleh sel. Insulin itu sendiri berfungsi menyalurkan glukosa menuju sel-sel yang membutuhkannya sebagai bahan bakar metabolisme. Insulin dapat terganggu pada kerusakan sel beta dari pulau Langerhans pada pankreas, atau karena resistensi insulin; atau karena kombinasi keduanya. Resistensi insulin artinya insulin yang diproduksi pankreas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan aktual insulin. Biasanya ini terjadi pada orang gemuk. Gejala khas diabetes melitus adalah gejala yang timbul akibat hiperglikemia; antara lain sering haus, sering lapar, dan banyak kencing. Oleh dokter sering disingkat sebagai 3 P (polidipsia, polifagia, dan poliuria). Berat badan dapat turun drastis tanpa sebab yang jelas. Ada pula ciri-ciri yang tidak terlalu khas seperti penglihatan yang kadang kabur dan sering merasa lelah. Infeksi atau luka lebih lambat sembuhnya. Dari genitalia, mungkin timbul keputihan atau rasa gatal. Kadang sering pula merasa kesemutan pada ujung-ujung tangan atau kaki.

Apa saja pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menyaring penderita diabetes melitus?

Glukosa darah puasa (fasting blood glucose) adalah pemeriksaan gula darah terhadap seseorang yang telah dipuasakan semalaman. Biasanya orang tersebut disuruh makan malam terakhir pada pukul 22.00; dan keesokan paginya sebelum ia makan apa-apa, dilakukan pemeriksaan darah. Nilai normal untuk dewasa adalah 70-110 mg/dL. Seseorang dinyatakan diabetes melitus apabila kadar glukosa darah puasanya lebih dari 126 mg/dL. Sedangkan kadar glukosa darah puasa di antara 110 dan 126 mg/dL menunjukkan gangguan pada toleransi glukosa, yang perlu diwaspadai dapat berkembang menjadi diabetes melitus di masa mendatang.

Glukosa darah sewaktu atau glukosa darah 2 jam postprandial (2 jam setelah makan) adalah pemeriksaan gula darah terhadap seseorang yang tidak dipuasakan terlebih dahulu. Perbedaannya adalah untuk skrining atau pemeriksaan penyaring, biasanya diperiksa glukosa darah sewaktu. Tanpa ditanya apa-apa atau disuruh apa-apa, glukosa darah langsung diperiksa. Sedangkan untuk keperluan diagnostik, dilakukan pemeriksaan glukosa darah 2 jam postprandial segera setelah glukosa darah puasa diperiksa. Beban yang diberikan adalah glukosa 75 gram yang dilarutkan dalam 200 mL air yang dihabiskan dalam 5 menit. Selanjutnya subjek diistirahatkan selama 2 jam (tidak boleh beraktivitas fisik berlebihan). Nilai normal untuk dewasa adalah kurang dari 140 mg/dL. Seseorang dinyatakan diabetes melitus apabila kadar glukosa darah sewaktunya lebih dari 200 mg/dL. Di antaranya dinyatakan mengalami gangguan toleransi glukosa.

Glycosylated hemoglobin (HbA1c) adalah pemeriksaan penunjang diabetes melitus yang ditujukan untuk menilai kontrol glikemik seorang pasien. HbA1c adalah salah satu fraksi hemoglobin (bagian sel darah merah) yang berikatan dengan glukosa secara enzimatik. HbA1c ini menunjukkan kadar glukosa dalam 3 bulan terakhir, karena sesuai dengan umur eritrosit (sel darah merah) yaitu 90-120 hari. Nilai HbA1c yang baik adalah 4-6%. Nilai 6-8% menunjukkan kontrol glikemik sedang; dan lebih dari 8%-10% menunjukkan kontrol yang buruk. Pemeriksaan ini penting untuk menilai kepatuhan seorang pasien diabetes dalam berobat. Bisa saja seorang pasien yang sudah tahu akan diperiksa glukosa darahnya melakukan olahraga ekstra keras atau menjaga makanannya dengan hati-hati agar saat diperiksa glukosa darah sewaktunya memberi hasil yang normal; namun dengan pemeriksaan HbA1c, semua itu tidak bisa dibohongi. Kepatuhan pasien dalam 3 bulan terakhir terlihat dari tinggi rendahnya kadar HbA1c. Selain itu, HbA1c juga dapat meramalkan perjalanan penyakit, apakah pasien berpeluang besar mengalami komplikasi atau tidak; berdasarkan kadar kontrol glikemiknya.

Berikut ini adalah kriteria diagnostik diabetes melitus menurut WHO pada tahun 2006.

WHO2006

Referensi / further reading

  1. http://www.labtestsonline.org/understanding/analytes/glucose/test.html
  2. http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2006/08/hba1c-sebagai-kontrol-penderita-diabetes-mellitus
  3. Untuk gambar: http://www.who.int/entity/diabetes/publications/Definition%20and%20diagnosis%20of%20diabetes_new.pdf

(hnz)