Untuk hidup, seorang manusia memerlukan sinergisme fungsi tiga organ sekaligus. Yaitu otak (beserta batang otak), paru-paru, dan jantung. Jantung memiliki sistem pacu tersendiri yang tidak tergantung pada organ lainnya, yaitu nodus sinoatrial (SA node). Jantung dan paru bekerja sinergis. Jika paru-paru mengalami gangguan, otomatis aliran darah jantung kanan akan terganggu. Demikian juga kalau jantung gagal memompa darah keluar darinya, maka paru-paru yang akan terkena bendungan. Sedangkan otak, hanya berperan pada pengaturan fungsi pernapasan spontan. Pusat pernapasan seseorang terletak di batang otak.

Lalu apa sebenarnya kondisi yang membuat seseorang dapat dikatakan meninggal? Ada beberapa macam istilah meninggal (mati) secara medis.

  • Mati biologis adalah kondisi di mana sel-sel tubuh mengalami kerusakan yang ireversibel. Dalam kondisi seperti ini seseorang tidak mungkin dapat hidup kembali.
  • Mati jantung adalah kondisi di mana jantung seseorang tidak berdetak meskipun sudah dilakukan resusitasi jantung paru selama 30 menit, yang ditandai dengan tidak adanya kompleks QRS pada EKG.
  • Mati sosial adalah kondisi di mana fungsi otak seseorang mengalami kerusakan cukup berat yang menyebabkannya tidak mungkin berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
  • Mati otak adalah kondisi kerusakan sebagian atau seluruh otak yang menyebabkan gangguan fungsional. Definisi ini agak tercampur dengan mati sosial. Mati otak sendiri dapat dibagi atas tiga macam; yaitu mati serebral atau mati kortikal, mati batang otak, atau mati seluruh otak (brain death).

Mati serebral atau mati kortikal adalah kondisi kerusakan berat pada serebrum (otak besar), namun batang otak tidak mengalami gangguan. Pasien masih dapat bernapas dengan spontan, dan fungsi-fungsi vegetatif lainnya masih baik; karena itu mati serebral ini menyebabkan seseorang berada dalam vegetative state. Fungsi biologisnya sebagai manusia masih baik, namun otaknya secara umum tidak berfungsi lagi. Vegetative state yang berlangsung selama 3 bulan atau lebih dianggap persisten (persistent vegetative state). Seseorang dengan persistent vegetative state sangat mungkin untuk sadar apabila sebelumnya ia mengalami koma, namun peluang pemulihan fungsi otaknya seperti sediakala sangat kecil.

Brain death (menurut American Academy of Neurology) adalah hilangnya seluruh fungsi otak dan batang otak secara ireversibel, tanpa diikuti dengan hilangnya fungsi sirkulasi jantung. Dengan kata lain fungsi jantungnya dan paru-parunya masih baik-baik saja. Kondisi ini sama dengan mati batang otak; di mana  masalah utamanya adalah pusat pernapasan di batang otak ikut mengalami kerusakan. Orang seperti ini dapat terus hidup dengan mesin ventilator, untuk menggantikan fungsi pernapasannya. Jika mesin ventilator dicabut, otomatis paru gagal bernapas dan jantung perlahan-lahan akan gagal berfungsi, sehingga orang itu akan meninggal. Di Indonesia, mati batang otak sudah cukup membuat seseorang dapat dikatakan meninggal.

Hal ini perlu dibedakan dengan koma, yaitu kondisi penurunan kesadaran yang paling dalam.  Pasien koma tidak mengalami gangguan pernapasan spontan, fungsi jantung, maupun fungsi paru; sehingga ia terlihat seperti tidur; namun tidak dapat dibangunkan dengan rangsangan apapun. Diagnosis brain death memang memasukkan koma dalam salah satu syaratnya, namun ada tambahan hilangnya refleks batang otak dan tes apnea positif.

Adapun refleks batang otak ada tujuh macam. Jika ketujuh-tujuhnya tidak ada, berarti seseorang telah mengalami mati batang otak. Pemeriksaan refleks ini menilai berbagai hal, mulai dari fungsi saraf yang berpusat di batang otak, refleks pernapasan spontan, sampai refleks terhadap rangsang nyeri.

  • Refleks cahaya, pupil tidak mengecil dengan penyinaran (midriasis dan menetap)
  • Refleks nyeri pada kornea, tidak ada kedipan
  • Refleks okulosefalik tidak ada. Dengan gerakan kepala, bola mata bergerak ke arah yang sama dengan arah gerakan.
  • Refleks kalorik. Aliran air dingin ke dalam telinga tidak diikuti deviasi atau pergeseran bola mata.
  • Refleks mandibula negatif. Penekanan kuat pada sudut rahang mulut tidak diikuti respons nyeri.
  • Refleks sentuhan pada faring negatif.
  • Refleks batuk pada perangsangan bronkus negatif.

Dan satu lagi; dalam kategori mati secara medis, ada istilah mati suri (apparent death). Ini merupakan kondisi unik di mana ketiga sistem tadi mengalami penurunan fungsi sampai minimal, namun dengan rangsangan tertentu (misalnya resusitasi), fungsi tadi -baik satu maupun ketiganya- berpeluang kembali ke keadaan normal. Lalu bagaimana membedakannya dengan kematian sungguhan? Selain dengan pemeriksaan EKG, biasanya para dokter menunggu beberapa lama untuk memastikan si pasien telah meninggal. Di Indonesia standar waktunya 2 jam. Namun di Amerika Serikat 6 jam, dan harus dipastikan oleh 2 orang dokter. Sedangkan di negara tertentu bisa sampai menunggu 24 jam, misalnya di Israel.

(hnz)