Masuk angin sering disebut-sebut oleh berbagai kalangan masyarakat. Padahal masuk angin tidak dikenal dalam istilah kedokteran secara resmi. Apa sebenarnya masuk angin itu?

Seseorang menyebut dirinya masuk angin jika mereka merasa menggigil atau kedinginan dan bersin-bersin. Kadang ada yang langsung batuk pilek. Kadang pula mengeluh pegal otot atau sendi, perut kembung atau terasa penuh, sering buang angin. Keluhan ini semua dapat timbul akibat pengaruh cuaca dingin di sekitar kita. Bagi penduduk ekspatriat atau turis, istilah masuk angin bisa menimbulkan kebingungan. Tampaknya ini dipengaruhi pandangan sebagian besar orang Indonesia bahwa orang bisa jatuh sakit karena “angin yang jahat”. Istilah dalam bahasa Inggris yang konon paling cocok untuk masuk angin adalah “to catch a cold”.

Lalu apa pengaruhnya sama angin? Pada saat cuaca dingin, tubuh akan berusaha mengkompensasi aliran darah dalam tubuh, termasuk aliran darah di perifer (bawah kulit dan sekitarnya), agar kita tetap merasa hangat. Karena itu pembuluh darah tepi akan mengalami penyempitan agar udara dingin tidak mengubah suhu tubuh. Akibatnya, panas yang seharusnya dikeluarkan tubuh akan menjadi berkurang. Otomatis aliran darah dan suplai oksigen ke perifer menjadi kurang lancar karena sebagian besar aliran darah dipusatkan untuk memperdarahi bagian-bagian tubuh yang penting (seperti jantung, ginjal, dan otak). Karena itulah pada cuaca dingin, buang air kecil jadi lebih sering. Ini juga yang menyebabkan pencernaan jadi kurang lancar dan udara pun tertahan dalam saluran cerna. Kita pun bisa merasa kembung dan sering buang gas.

Sementara itu dari aspek sel-sel tubuh; untuk melakukan metabolisme sel dengan normal, kita memerlukan suplai oksigen. Karena itulah metabolisme sel di bagian tertentu tubuh akan terjadi secara anaerob. Produk metabolisme anaerob seluler adalah asam laktat, yang dalam jumlah berlebihan dapat tertimbun di otot dan menimbulkan rasa lelah (fatigue).

Jika seseorang sudah masuk angin dan timbul gejala tidak enak, biasanya ia akan mengkonsumsi jamu atau obat warung. Obat warung (yang isinya parasetamol) boleh dikonsumsi jika gejala memang hanya disebabkan masuk angin saja, tanpa adanya infeksi. Jika ada gejala demam yang tinggi, apalagi sampai berhari-hari, bisa saja menandakan adanya infeksi. Apabila sudah demikian, dan jika infeksinya karena bakteri, biasanya obat warung atau jamu tidak dapat menghilangkan gejala yang ada. Minum parasetamol ada batasnya juga, jangan sekali minum sampai 10 tablet (ini sih bukannya sembuh. Malah bisa keracunan!).

Bagaimana dengan jamu? Sebatas jamu tidak mengandung steroid dan obat-obatan yang tidak jelas, lebih baik jangan dikonsumsi. Obat-obatan yang tidak jelas itu antara lain NSAID (analgesik nonsteroid). Efek sampingnya bermacam-macam. Steroid dan NSAID, walaupun berbeda dari segi struktur kimia, sama-sama berpotensi besar melukai dinding lambung dan menimbulkan ulkus. Steroid sendiri juga banyak efek samping lainnya. Bisa membuat tulang keropos (osteoporosis), ulkus pada lambung, glukosa darah menjadi naik, berat badan meningkat, dan sebagainya.

Kerokan adalah alternatif lain. Kerokan menyebabkan pembuluh darah yang tadinya bervasokonstriksi mengalami vasodilatasi, sehingga panas di dalam tubuh diharapkan dapat mengalir ke perifer dengan lancar. Sama seperti obat warung, selama tidak ada infeksi, kerokan saja dapat meredakan gejala masuk angin. Kerokan membuat seseorang yang masuk angin merasa nyaman karena setelah kerokan dilakukan, tubuh yang bersangkutan akan mengeluarkan hormon endorfin. Endorfin yang meningkat akan mengurangi rasa nyeri otot dan pegal-pegal. Sirkulasi darah juga akan membaik, setelah kenaikan endorfin ini diikuti oleh penurunan prostaglandin E2 (PGE2) dan bradikinin.

Referensi

  1. http://ilovecassava.multiply.com/journal/item/15/Kenapa_kerokan_bisa_merah
  2. http://indonesianmedical.blogspot.com/2008/05/apa-itu-masuk-angin.html

(hnz)