Mengapa belum ada vaksin malaria yang cukup efektif?

Kurangnya sumber daya manusia dan biaya menjadi faktor kendala dalam pengembangan vaksin yang efektif untuk mencegah malaria. Selain itu faktor perbedaan sifat berbagai spesies Plasmodium dan faktor resistensi juga dapat mengganggu kerja vaksin.

Bagaimana teori yang mendasari kemungkinan dikembangkannya vaksinasi terhadap malaria?

Konsep memori imunologik dan transfer imunitas lewat serum atau imunoglobulin tampaknya berperan pada proses terbentuknya kekebalan terhadap malaria. Individu yang sudah terpapar Plasmodium dalam waktu yang lama mungkin sudah lebih dulu “membangun” imunitas sehingga gejala infeksi tidak begitu nyata, walaupun dari analisis darah tebal sudah ditemukan Plasmodium. Selain itu apabila serum darah seorang dewasa yang sudah sering terpapar Plasmodium diberikan kepada orang lain yang belum pernah terpapar, maka resipien serum itu akan memperoleh sejumlah imunitas.

Karena itu, prinsip vaksinasi adalah membuat seseorang yang tidak pernah terpapar Plasmodium menjadi imun dengan cara memaparkannya pada Plasmodium yang dilemahkan. Dalam hal ini sporozoit adalah bentuk yang terpenting karena sesuai dengan bentuk Plasmodium yang dimasukkan nyamuk ke dalam tubuh manusia. Konsep ini sudah dicoba pada tahun 1970-an dengan melemahkan sporozoit lewat radiasi, namun kendala perbedaan spesies Plasmodium yang amat bervariasi membuat konsep ini tidak terlalu berkembang pada saat itu. Sedangkan pada masa sekarang, permasalahan utama adalah resistensi parasit yang berkembang dengan cepat.

Selain pada fase sporozoit, ada kemungkinan konsep vaksin bekerja pada tahap lain dalam siklus hidup Plasmodium. Secara teoritis setiap tahap perkembangan Plasmodium dalam tubuh manusia dapat dibuatkan vaksin. Vaksin preeritrositer (hepatik) dibuat berdasarkan konsep penghambatan pelepasan trofozoit dari skizon hati, yaitu dengan menginduksi limfosit T sitotoksik untuk merusak sel-sel hati yang terinfeksi. Vaksin eritrositer diharapkan dapat menghambat multiplikasi trofozoit yang dilepaskan skizon hati atau mencegah invasi trofozoit menuju eritrosit. Ada pula konsep pembuatan vaksin yang mampu mencegah perlekatan eritrosit ke dinding pembuluh darah. Fase seksual juga dapat dijadikan dasar pengembangan vaksin. Fase ini tidak berperan imunologis pada manusia, namun berperan dalam mencegah penularan lebih lanjut lewat nyamuk.

Mekanisme kerja kandidat vaksin malaria

Mekanisme kerja kandidat vaksin malaria

Adakah pengelompokan dalam pengembangan vaksin malaria jika ditinjau dari populasi penduduk yang memerlukan?

Pengembangan vaksin malaria pada saat ini ditujukan untuk dua kelompok besar. Yang pertama kepada populasi di daerah endemik malaria, dan yang kedua ditujukan untuk turis dari negara nonendemik yang berkunjung ke negara endemik. Sebenarnya saat ini malaria pada turis dapat dicegah dengan pengobatan kemoprofilaksis; namun pertimbangan efek samping, kepatuhan, kontraindikasi, dan kenyamanan; cukup membuat para turis dan calon turis mengharapkan alternatif pencegahan malaria yang lebih baik.

Berikut ini adalah beberapa kandidat vaksin malaria yang pernah diuji.

  • Pada tahun 1987 dikembangkan kandidat vaksin SPf66, dengan menggunakan antigen permukaan sporozoit dan merozoit Plasmodium falciparum. Uji klinik terhadap vaksin ini gagal di fase III, di mana efektivitasnya turun dari 75% menjadi 60%.
  • CSP adalah vaksin terhadap Plasmodium falciparum yang menggunakan rekombinan terhadap komposisi protein permukaan sporozoit (circumsporozoite protein) yang berikatan dengan toksin Pseudomonas aeruginosa. Uji klinik terhadap vaksin ini gagal di fase I, karena efek protektifnya tidak begitu kuat.
  • Vaksin multifase NYVAC-Pf7 yang mengkombinasikan 7 antigen P.falciparum. Vaksin ini mengandung CSP dan PfSSP2 (antigen permukaan sporozoit) yang berfungsi protektif pada fase sporozoit; 4 antigen LSA1 (beberapa di antaranya AMA-1, antigen serin, MSP-1) yang protektif di fase eritrositer; dan 1 antigen fase seksual (Pfs25). Uji klinik terhadap vaksin ini gagal memicu terbentuknya antibodi protektif pada manusia.
  • RTS,S merupakan kandidat vaksin rekombinan yang mengandung protein permukaan sporozoit P.falciparum dari fase preeritrositer yang digabungkan dengan antigen permukaan virus hepatitis B; sehingga diharapkan imunogenisitasnya meningkat. Bahan adjuvan yang teruji klinis cukup baik imunogenisitasnya adalah monofosforil A dan QS21 (SBAS2). Hasil uji efektivitas kandidat vaksin ini cukup baik, terutama bagi anak-anak. Efektivitas vaksin pada anak-anak ditemukan sebesar 53% untuk adjuvan AS01E (Bejon et.al; 2008) dan 65.2% untuk adjuvan AS02D (Abdulla et.al; 2008).
  • PvRII (Plasmodium vivax region II) merupakan kandidat vaksin yang ditujukan untuk mengikat protein reseptor untuk P.vivax; yaitu antigen Duffy.
  • Sanaria PfSPZ adalah kandidat vaksin lainnya yang menggunakan sel utuh Plasmodium falciparum yang dilemahkan sebagai pemicu respons imunitas. Prinsip dasarnya sama dengan metode yang iradiasi nyamuk yang mengandung Plasmodium falciparum untuk melemahkan parasit, yang pernah dikembangkan pada tahun 1970-an.

Adakah titik tertentu siklus hidup Plasmodium yang belum tersentuh konsep vaksin malaria?

Konsep vaksin malaria di masa mendatang tampaknya akan bertitik tolak dari pengembangan tahap dalam siklus hidup Plasmodium, misalnya:

  • Penelitian terhadap bagian mana saja yang imunogenik pada partikel Plasmodium, selain antigen permukaan.
  • Penelitian DNA Plasmodium. Diharapkan dengan modifikasi DNA, misalnya dengan pembuangan atau penambahan segmen genom yang parasiter, atau genom yang mengkode protein tertentu; Plasmodium akan melemah, namun tetap bersifat imunogenik.

(bersambung ke bagian ketiga)

(hnz)