Sugar…
Pour a little sugar on it, honey
Pour a little sugar on it, baby
I’m gonna make your life so sweet…

(The Archies, “Sugar Sugar”, 1969)

sugartable

Manis. Suatu hal yang disukai banyak orang sejak dulu kala, khususnya dari segi rasa makanan. Bahkan kata “manis” (sweet) selalu diasosiasikan dengan hal-hal menyenangkan atau indah dalam hidup. Namun, kelebihan konsumsi gula (sumber rasa manis utama) dapat berakibat buruk:  berat badan meningkat, dan ujung-ujungnya terjadi obesitas. Pada dekade 1990-an, penduduk Amerika Serikat rata-rata mengkonsumsi 20 sendok teh gula dalam makanan mereka sehari, dengan 60%-nya didapat dari gula olahan serta pemanis buatan, dan 40% sisanya dari sukrosa (gula biasa). Kelebihan konsumsi gula semakin menjadi-jadi dan menimbulkan masalah tersendiri. Karena itulah pemanis buatan, yang memiliki rasa manis juga namun berkalori lebih rendah, lebih disukai dan telah menjadi pemanis alternatif yang digunakan secara luas.

Apa itu aspartame? Semacam gula? Atau….

Aspartame adalah salah satu pemanis artifisial (buatan) nonsakarida yang banyak digunakan dalam industri makanan sejak akhir tahun 1970-an. Selain dipromosikan sebagai pemanis rendah kalori, rasanya pun dikenal sangat manis; kira-kira 180-200 kali lebih manis daripada gula biasa (sukrosa) dalam konsentrasi yang sama. Aspartame sendiri merupakan metil ester dari dipeptida fenilalanin dan asam aspartat (Phe-Asp). Pemanis ini ditemukan pada tahun 1965 oleh James Schlatter secara “tidak sengaja”, karena saat itu ia hendak meneliti efektivitas aspartame sebagai obat ulkus lambung.

aspartame

Mengapa aspartame begitu terkenal?

Saat ini, lebih dari 5000 produk makanan di dunia yang menggunakan aspartame sebagai bahan aditifnya. Jenis produk minuman dan makanan tersebut antara lain:

  • Minuman (soda, jus buah, teh es, kopi, dan minuman cokelat)
  • Produk olahan susu (yogurt, milkshake bubuk, es krim, dan puding)
  • Produk konfeksi (permen karet, permen / manisan, cokelat, permen penyegar napas)
  • Produk sereal olahan
  • Bahan pengawet buah (garam buah dan produk buah kalengan)
  • Obat-obatan dan vitamin (tablet effervescent, tablet kunyah, multivitamin, dan obat sachet)
  • Digunakan juga untuk pemanis di restoran atau kantin.
  • Dijual dengan berbagai merk dagang. Misalnya Equal dan Tropicana Slim.

Sejak diperkenalkan, penggunaan aspartame dinilai menguntungkan. Karena rasanya yang sangat manis; sehingga untuk “mempermanis” rasa makanan, jumlah yang perlu ditambahkan jauh lebih sedikit daripada gula biasa. Hal ini berdampak positif dari segi strategi pemasaran. Dengan sendirinya kalori dari aspartame dapat diabaikan (hanya sekitar 1-2 kalori). Hal ini membuat orang-orang yang berniat mengurangi konsumsi glukosa tetap bisa menikmati rasa manis (paling tidak anggapan mereka demikian). Padahal rasa manis yang dihasilkan oleh aspartame tidak tepat sama dengan sukrosa. Rasa manis timbul lebih cepat dan bertahan cukup lama; selain itu juga jarang ada aftertaste tidak enak. Rasa manis yang benar-benar mirip sukrosa dihasilkan dengan mencampurkan aspartame dengan acesulfame K (walaupun kombinasi ini malah lebih manis lagi).

Benarkah aspartame aman? Atau cuma hoax?

Aspartame dinyatakan aman dipakai sebagai bahan aditif makanan oleh WHO dan FAO, dua organisasi bawahan PBB yang masing-masing bergerak di bidang kesehatan dan pangan. Oleh United States Food & Drug Administration, penggunaan aspartame diperbolehkan sejak 1974 dengan jumlah asupan harian yang dapat diterima (acceptable daily intake, ADI) 50 mg/kgBB. European Union’s Scientific Committee for Food juga sudah menyetujui penggunaan aspartame dengan ADI 40 mg/kgBB. ADI adalah jumlah bahan makanan yang boleh dimakan atau diminum dalam sehari seumur hidup tanpa seseorang mengalami efek samping karena asupan bahan makanan tersebut.

Karena aspartame mengandung asam amino fenilalanin, aspartame tidak boleh dikonsumsi oleh penderita fenilketonuria (PKU). Penderita PKU mengalami defisiensi enzim yang memetabolisme atau menguraikan fenilalanin. Ada tiga enzim yang defisiensinya dapat menimbulkan fenilketonuria; yaitu fenilalanin hidroksilase (paling banyak), dihidropteridin reduktase, dan 6-piruvoil tetrahidroprotein sintase. Kelebihan fenilalanin dalam sirkulasi darah dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf pusat dan kulit. Untuk mencegah efek ini, setiap produsen produk makanan dengan aspartame wajib mencantumkan label tambahan di kemasan makanannya.

Pencernaan aspartame dalam tubuh berbeda dengan sukrosa, karena strukturnya yang berupa protein. Dalam tubuh, aspartame akan terurai menjadi tiga komponen; yaitu asam amino fenilalanin, asam aspartat, dan metanol. Produk sampingannya antara lain formaldehida, asam format, dan diketopiperazin. Dalam suhu tinggi aspartame lebih mudah terurai; karena itu aspartame tidak dapat dipakai untuk pemanis pada bahan makanan yang akan dipanggang. Aspartame cocok digunakan untuk pemanis minuman bersoda dan sirup; karena sifatnya yang paling bertahan lama dalam pH asam lemah (kira-kira pH 3 sampai 5). Pada jus kemasan, aspartame ditambah dengan sakarin untuk membantu minuman bertahan manis lebih lama.

Sejak tahun 1980-an, penggunaan aspartame sudah menjadi kontroversi. Efek samping residu penguraian aspartame yang belum jelas sampai isu keterkaitannya dengan kanker otak cukup banyak diperdebatkan sejak saat itu. Bahkan sempat beredar hoax bahwa aspartame dapat menyebabkan gangguan neurologis, gangguan perilaku, sakit kepala (karena fenilalanin); kebutaan (karena metanol), multipel sklerosis, kanker, dan lupus eritematosis sistemik.

Percobaan di dekade 1980-an terhadap mencit menunjukkan bahwa aspartame dapat menyebabkan kanker otak, namun hal serupa tidak ditemukan pada manusia.

Adakah analisis keamanan aspartame secara kimiawi?

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, menurut FDA ADI untuk aspartame adalah 50 mg/kgBB. Dengan demikian seorang dewasa dengan berat badan 75 kg dapat mengkonsumsi aspartame sebanyak maksimal 3750 mg, yang setara dengan 21 kaleng minuman soda (1 kaleng minuman soda mengandung 180 mg aspartame). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya konsumsi aspartame harian manusia pada umumnya tidak melebihi ADI; sehingga dapat dianggap aspartame aman.

Sejumlah penelitian telah dilakukan terhadap efek samping konsumsi aspartame. Hasilnya secara umum menunjukkan bahwa aspartame cukup aman. Di samping itu ada sebagian kecil ahli yang menganjurkan penelitian lebih lanjut terhadap efek aspartame dalam meningkatkan risiko kanker otak dan limfoma.

Bagaimana dengan produk hidrolisis aspartame? (yang disebut-sebut di hoax tadi)

Ada tiga produk hidrolisis aspartame yaitu fenilalanin (50%), asam aspartat (40%), dan metanol (10%). Metanol dikenal paling “berbahaya” di antara ketiganya. Jumlah fenilalanin, asam aspartat, dan metanol ini dianggap tidak membahayakan dan masih jauh di bawah ambang yang menimbulkan efek samping. Kita bahas satu per satu…

  • Fenilalanin berlebihan dapat menimbulkan kejang-kejang dan efek teratogenik, namun konsumsi aspartame dalam jumlah wajar tidak akan menimbulkan efek ini.
  • Asam aspartat berlebihan dapat merusak saraf, namun asam amino ini tidak dapat melewati sawar darah otak yang masih utuh.
  • Metanol produk hidrolisis aspartame tidak berbahaya karena jumlah ini masih lebih sedikit daripada jumlah metanol yang terdapat pada buah-buahan dan minuman beralkohol. Selain itu setelah metanol diserap oleh usus halus, metanol segera dikonversi menjadi formaldehida, lalu tereduksi menjadi asam format.
  • Aspartilfenilalanin diketopiperazin (Asp-Phe-DKP) merupakan produk hidrolisis aspartame setelah berbulan-bulan. Sebanyak 25% aspartame dalam minuman kemasan, dalam waktu 6 bulan telah mengalami konversi menjadi DKP. Dalam tubuh, DKP akan mengalami penambahan gugus nitro di lambung. Bentuk DKP inilah yang pernah disebut-sebut bersifat karsinogenik, namun belum terbukti secara klinis.

Isu efek aspartame yang terkenal pada orang-orang yang menggunakannya sebagai pemanis pengganti sukrosa adalah dapat menaikkan berat badan akibat resistensi insulin. Mekanisme yang diduga berkaitan dengan hal ini – jika isu ini benar – adalah peningkatan produksi insulin tubuh yang terjadi akibat rangsangan aspartame itu sendiri, walaupun aspartame hampir tidak mengandung kalori.

Tunggu… jadi benarkah aspartame aman?

Pada tahun 2006, European Ramazzini Foundation (ERF) mengajukan laporan pertama sehubungan dengan konsumsi aspartame pada 1800 orang subjek. Mereka menyebutkan aspartame berpotensi karsinogenik, bahkan dalam jumlah asupan 20 mg/kgBB/hari (kurang dari separuhnya ADI!). Hal ini sempat menimbulkan kontroversi di kalangan EFSA (European Food Safety Authority), namun mereka memutuskan untuk tidak merevisi nilai ADI. Badan toksikologi nasional Amerika Serikat akhirnya membuktikan bahwa ERF sebenarnya menemukan hiperplasia, bukan keganasan. ERF lalu mengajukan laporan kedua pada tahun 2007, yang juga mendapat sambutan serupa. Namun laporan kedua ini berdampak cukup luas. Indonesia, Filipina, negara bagian New Mexico, California, dan Hawaii di Amerika Serikat mempertimbangkan dengan serius untuk menarik aspartame dari peredaran. Pada tahun yang sama supermarket besar dari Inggris (Sainsbury’s dan WalMart) menarik produk aspartame dari pemasaran mereka.

Karena perdebatan yang tidak kunjung selesai antara pihak yang pro dan kontra terhadap penggunaan aspartame, kita selaku pihak konsumen hanya mampu mengendalikan diri dalam mengkonsumsi produk minuman dan makanan instan. Sebisa mungkin batasi konsumsi minuman kaleng atau kemasan yang dijual di pasar atau supermarket. Minuman alamiah seperti teh daun, kopi, air putih, dan jus buah buatan rumah lebih aman jika ditinjau dari aspek pemanis buatan; walaupun tentunya konsumsi dalam jumlah besar juga tidak dianjurkan.

Referensi

  1. Frequently Asked Questions about Aspartame. Link URL: http://www.aspartame-info.com/aspartame_info.html and http://www.aspartame-info.com/info/faqs.html
  2. Iskandar S. Si Manis yang Bermasalah. Link URL: http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/si_manis_yang_bermasalah/
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Aspartame
  4. http://en.wikipedia.org/wiki/Aspartame_controversy

(bersambung)

(hnz)