Roberto Baggio merupakan salah satu mantan pemain sepakbola Italia berbakat dan berprestasi besar (paling tidak, salah satu legenda favorit gw :D). Tanggal 16 Mei 2009 lalu, pemain kelahiran Caldogno (Vicenza), 18 Februari 1967 ini sudah genap 5 tahun pensiun dari sepakbola profesional. Berikut ini perjalanan karirnya…

Vicenza1982-85

Di tim muda klub lokal, penampilan Baggio membuat tertarik pencari bakat tim Vicenza. Baggio pun memulai karir sepakbola profesional di klub tersebut, yang saat itu bermain di seri C1 pada musim 1982-83. Setelah membawa Vicenza naik ke seri B pada musim 1984-85, ia pindah ke Fiorentina. Baggio membuat debut pertandingan di seri A pada 21 September 1986 (vs Sampdoria) dan membuat gol pertamanya di seri A pada 10 Mei 1987 (vs Napoli). Ia mulai menjadi anggota tim inti sejak musim 1987-88. Prestasinya bersama Fiorentina membuat ia dipanggil ke tim nasional Italia pertama kali pada November 1988. Baggio juga membawa Fiorentina menjadi finalis piala UEFA 1989-90. Di final mereka dikalahkan Juventus. Setelah 5 tahun membela Fiorentina, Juventus akhirnya berhasil membeli Baggio dengan nilai transfer terbesar tahun 1990, yaitu sebesar 7.5 juta poundsterling. Transfer ini sangat kontroversial dan membuat tifosi Fiorentina kecewa berat. Bahkan setelah transfer diselesaikan, terjadi kerusuhan di jalanan kota Firenze yang mengakibatkan 50 tifosi cedera.

Fiorentina1985-90

Penampilannya yang istimewa membuat Azeglio Vicini memanggilnya ke Gli Azzurri untuk berlaga di World Cup 1990. Baggio baru bermain di pertandingan ketiga penyisihan grup melawan Cekoslovakia. Di partai tersebut ia berhasil mencetak gol terbaik sepanjang turnamen, di mana ia mencetak gol setelah melewati 4 pemain lawan dari tengah lapangan. Baggio berhasil membawa tim tuan rumah memperoleh tempat ketiga di World Cup 1990.

Italy1994

Empat tahun kemudian, Baggio juga menjadi bintang Italia di World Cup 1994. Di turnamen tersebut The Divine Ponytail ini mencetak 5 gol, namun ia gagal dalam adu penalti terakhir di final saat tim asuhan Arrigo Sacchi ini bertemu Brazil. Baggio sendiri menyatakan ia sebenarnya kurang fit untuk pertandingan final tersebut (sebenarnya Baggio dilarang tampil di final oleh tim medis, tapi ia memaksakan diri). Sehingga ia pun akhirnya menendang sekeras-kerasnya (akibatnya bola malah melewati tiang atas!).

juventus1990-95

Bersama Juventus selama 5 tahun, Baggio membawa La Vecchia Signora meraih scudetto 1994-95, juara Coppa Italia 1995, dan juara piala UEFA 1993. Selain itu ia juga mendapat Ballon d’Or (European Footballer of the Year) 1993, FIFA Player of the Year 1993, dan FIFA World Cup Silver Ball 1994. Cederanya di World Cup 1994 membuat ia tak bisa tampil maksimal di musim 1994-95. Juventus juga telah menemukan bintang baru di pemain mudanya, Alessandro Del Piero. Hal ini membuat posisi Baggio menjadi sulit dan akhirnya ia pun pindah ke AC Milan untuk musim 1995-96. Ia pun menjadi pemain pertama yang berhasil meraih scudetto di 2 musim berturut-turut bersama 2 tim yang berbeda. Meskipun demikian di Milan ia lebih banyak menjadi pemain pengganti. Posisinya dalam tim pun kembali dipersulit setelah Sacchi, yang tampaknya merasa dikecewakan oleh penalti Baggio yang gagal di World Cup, kembali melatih Milan di musim 1997-98. Baggio memutuskan pindah ke Bologna untuk musim tersebut.

Milan1996-97Bologna1997-98

Di Bologna Baggio menemukan kembali permainannya, di mana ia berhasil mencetak 22 gol dalam semusim untuk Il Rossoblu. Penampilannya ini membuat Cesare Maldini memanggilnya kembali ke Gli Azzurri untuk World Cup 1998. Baggio pun menjadi pemain Italia satu-satunya yang mencetak gol di 3 World Cup. Namun sayangnya Italia kembali kalah di adu penalti melawan Prancis di perempat final. Baggio telah bermain di 16 partai World Cup, di mana ia menjadi pemain Italia yang mencetak gol terbanyak di turnamen 4-tahunan tersebut dengan 9 gol dan satu-satunya pemain Italia yang mencetak gol di 3 World Cup berbeda. Selain itu ia juga menjadi pemain Italia yang paling berhasil dalam tendangan penalti, di mana ia berhasil mencetak gol dari penalti sebanyak 86% (106 dari 122 penalti) baik di seri A maupun kompetisi internasional. Walaupun selama Baggio masuk timnas Italia di World Cup Italia hanya kalah 1 kali, timnas Italia selalu kandas lewat adu penalti selama Baggio memperkuat mereka di kompetisi ini.

Setelah World Cup, Baggio ditransfer ke Inter Milan. Di Inter penampilan Baggio tidak terlalu maksimal dan cukup banyak dipersulit cedera. Sayangnya setelah sembuh total pada musim 1999-2000, ia malah tidak dimasukkan ke tim inti Inter karena pelatih Lippi lebih memilih Christian Vieri dalam tim intinya. Setelah kontraknya dengan Inter berakhir pada Juni 2000 ia pun pindah ke Brescia.

brescia2000-04

Brescia memang memberi kepercayaan penuh kepadanya untuk menjadi otak serangan. Di tiga musim pertamanya bersama Brescia, Baggio yang menjadi kapten mencetak 33 gol dalam 70 pertandingan. Ia berhasil membawa Brescia bertahan di seri A selama 4 musim berturut-turut pada musim 2003-2004. Baggio termasuk salah satu pemain yang mencetak lebih dari 200 gol di seri A dengan 205 gol. Jumlah terbanyak kelima dalam sejarah seri A setelah Piola, Nordahl, Meazza, dan Altafini. Gol ke-200-nya itu dibuat pada pertandingan melawan Parma (14 Maret 2004). Dalam karirnya sendiri Baggio telah mencetak lebih dari 300 gol.

Setelah menyatakan akan pensiun di akhir musim 2003-2004, Italia menggelar partai perpisahan untuk Baggio dengan timnas Spanyol pada 28 April 2004. Di partai tersebut Italia bermain imbang 1-1 dengan El Matador. Saat Baggio digantikan di babak kedua di partai sepakbola profesional terakhirnya (Milan vs Brescia) pada 16 Mei 2004, ia disambut meriah oleh seluruh penonton di stadion San Siro. Brescia pun menggantungkan kostum nomor 10 mereka.

FriendlyBorgonovo2008

Dalam kurun waktu lima tahun setelah pensiun dari sepakbola profesional, Baggio tampaknya tidak berminat untuk menjadi pelatih atau semacamnya. Ia juga telah menulis autobiografi (Una porta nel cielo). Pada tanggal 8 Oktober 2008, ia bermain dalam partai amal antara Milan melawan Fiorentina sebagai penghormatan untuk mantan rekan setimnya di Fiorentina, Stefano Borgonovo.

Kehidupan pribadinya: anak ke-6 dari 8 bersaudara, dari pasangan Florindo-Matilde. Telah berkeluarga dengan Andreina sejak pertengahan 1989 dan memperoleh anak-anak Valentina (lahir Desember 1990) dan Mattia (lahir Mei 1994).

(hnz)

(dari berbagai sumber)