cigarettesMerokok sudah dikenal sebagai salah satu kebiasaan yang dapat mendatangkan berbagai masalah kesehatan. Berbagai usaha menghentikan kebiasaan ini juga sudah dilakukan di berbagai negara. Mulai dari kampanye No Smoking Day di Inggris tiap minggu kedua Maret, sampai World No Tobacco Day pada tanggal 31 Mei sejak 1987. Tidak hanya itu, merokok juga mengganggu orang lain; khususnya yang tidak merokok. Banyak orang yang merokok untuk alasan “gaya” atau “keren” (padahal lebih banyak bahayanya daripada kerennya). Mungkin terpengaruh iklan rokok juga ya? Maka itu media cetak dan poster larangan merokok sudah dipasang di tempat-tempat umum.

Seseorang sebenarnya bisa berhenti merokok sendiri apabila ia menyadari alasan positif untuk berhenti merokok, yaitu:

  • Menurunkan risiko kena serangan jantung, stroke, atau kanker; jadi umur harapan hidup bisa lebih panjang.
  • Mengurangi risiko penyakit pernapasan (COPD, chronic obstructive pulmonary disease; seperti bronkitis) pada orang-orang yang tinggal serumah.
  • Mengurangi risiko gangguan pernapasan pada bayi (khusus ibu hamil). Kebiasaan merokok waktu hamil disebut-sebut berpengaruh pada kasus sindrom bayi mati mendadak (sudden infant death syndrome).
  • Lebih hemat, karena uang yang biasa dipakai untuk membeli rokok dapat ditabung atau dipakai untuk membeli barang keperluan lain yang lebih penting / mendesak.

Kalau begitu bagaimana cara menghentikan kebiasaan merokok? Berikut ini adalah langkah-langkah yang dianjurkan oleh US Department of Health and Human Services (2000).

1. Persiapkan kapan akan mulai berhenti merokok. Selain menetapkan tanggalnya, si perokok juga harus mengubah lingkungan sekitarnya. Jauhkan rokok dan asbak dari tempat-tempat yang mudah dijangkau. Jangan tawar-menawar… ingat merokok satu batang pun bisa menggagalkan rencana ini.

2. Dukungan orang-orang di sekitar. Si perokok perlu memberitahukan rencana berhenti merokoknya kepada orang-orang di sekitarnya, dan minta agar mereka memberi dukungan. Jangan sampai mereka malah mengajak atau menawarkan rokok lagi kepada si perokok itu.

3. Pelajari pola hidup dan kebiasaan baru. Alihkan perhatian si perokok dari pikiran ingin merokok. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak berdiskusi atau ngobrol, pergi berjalan-jalan, atau memberinya kesibukan tertentu yang bisa membuatnya lupa dengan rokok. Bila si perokok biasa minum kopi sambil merokok, ganti minuman rutin dengan teh. Jangan berikan kopi juga. Relaksasi dengan spa atau olahraga juga dapat mengurangi stres akibat withdrawal. Perbanyak minum air putih.

4. Penggunaan obat-obatan. Menurut US Department HHS (2000), obat yang dianjurkan oleh FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) adalah patch nikotin yang ditempel di kulit. Patch ini mampu melepaskan nikotin ke dalam sirkulasi darah sebagai pengganti rokok. Kekuatan patch dalam melepaskan nikotin makin lama akan makin melemah, sehingga perlahan-lahan ketergantungan nikotin dapat diatasi. Namun saat ini sudah ditemukan obat varenicline, suatu analog reseptor asetilkolin tipe nikotinik α4β2. Varenicline bekerja sebagai antagonis kompetitif nikotin, dengan cara mengikat reseptor asetilkolin tersebut, yang sendirinya menghambat kemampuan nikotin untuk mengaktivasi reseptor α4β2. Proses ini akan menstimulasi sistem dopamin mesolimbik sistem saraf pusat, dan diharapkan dengan ini usaha penghentian kebiasaan merokok dapat berhasil.

5. Masalah yang mungkin timbul selama upaya penghentian kebiasaan merokok antara lain alkoholisme, perokok lain di sekitar, kenaikan berat badan seiring dengan penghentian rokok, dan perubahan mood. Kenaikan berat badan tidak menjadi masalah apabila diet masih dipertahankan seimbang dan sehat. Mengurangi konsumsi alkohol sangat membantu upaya penghentian kebiasaan merokok. Semua masalah ini dapat dikonsultasikan dengan dokter keluarga.

(hnz)