Saat ini dunia sedang diserang kekhawatiran terhadap influenza babi, yang merupakan penyakit infeksi virus. Ini bukanlah yang pertama kalinya masalah influenza mengganggu aspek kesehatan dunia. Tercatat sudah tiga pandemi influenza yang cukup mengkhawatirkan terjadi pada abad ke-20. Itu belum termasuk wabah flu burung yang menyerang dunia 4-5 tahun yang lalu. Sebenarnya seperti apakah virus influenza itu, dan mengapa virus influenza sedemikian berbahayanya, sehingga sering menimbulkan wabah dan masalah kesehatan internasional?

flu_virus_diag

Virus influenza termasuk virus ss RNA negatif yang berkapsul, dari famili Orthomyxoviridae. Virus influenza yang biasa menginfeksi manusia dibagi atas tiga golongan berdasarkan jenis glikoprotein permukaan khasnya; yaitu virus influenza A, B, dan C. Di antara ketiga virus ini, hanya virus influenza A yang cukup berpotensi signifikan dalam menimbulkan wabah.

Ada dua glikoprotein penting yang terdapat pada nukleokapsid virus influenza, yaitu hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N, yang juga bertindak selaku enzim hidrolitik). Hemaglutinin berfungsi untuk mengikat reseptor asam sialat pada sel saluran respirasi pejamu, dengan bantuan enzim neuraminidase. Neuraminidase menguraikan ujung alfa-ketosid 2,3 atau 2,6 yang terikat pada gugus N-asetil neuraminat glikoprotein; yang dalam kondisi normal berfungsi sebagai reseptor untuk menetralisasi hemaglutinin virus. Neuraminidase juga berperan dalam pelepasan partikel virion yang baru dihasilkan virus untuk menginfeksi sel-sel saluran respirasi pejamu di sekitarnya. Hemaglutinin dan neuraminidase inilah yang selama ini dikenal dalam pengelompokan subtipe virus influenza, misalnya H1N1 dan H3N2.

Lalu apa yang membuat virus influenza dapat dikatakan berbahaya? Karena virus influenza sangat mudah mengalami mutasi genetik pada RNA-nya, sehingga dengan sendirinya produk mutasi ini akan sulit dideteksi oleh imunitas yang dimiliki tubuh manusia.

Terdapat dua proses mutasi yang dapat dialami oleh virus influenza, yaitu antigenic drift dan antigenic shift. Antigenic drift adalah perubahan pada salah satu kodon pada RNA, yang mengakibatkan gen hemaglutinin berubah. Jika gen hemaglutinin berubah bentuk, ikatan antigen-antibodi antara hemaglutinin virus dan reseptor asam sialat tidak dapat terbentuk, sehingga infeksi tidak dapat dihindarkan. Antigenic shift lebih jarang terjadi, dan hanya mungkin jika ada infeksi antarspesies, di mana peran hospes perantara menjadi penting sebagai pejamu tempat virus mengalami mutasi. Antigenic shift terjadi apabila manusia mengalami infeksi dari dua subtipe virus influenza, misalnya dari unggas atau babi. Virus mengalami pencampuran materi genetik (RNA), namun tidak mengalami mutasi kodon. Jadi 8 RNA dari virus influenza manusia dapat bercampur dengan 8 RNA lain dari virus influenza unggas, dan demikian seterusnya; sehingga dari antigenic shift ini didapat virus baru yang memiliki subtipe atau galur berbeda. Di sinilah letak bahaya yang mengancam dari virus influenza, karena virus baru yang mungkin terbentuk memiliki kemungkinan kombinasi genetik tak terbatas yang tidak dikenali oleh sistem imunitas manusia.

Untuk mengantisipasi bahaya mutasi virus yang mematikan, para ahli masih terus melakukan penelitian dan pengembangan terhadap obat-obatan antivirus. Anjuran multidrug therapy juga sangat mungkin akan ditetapkan, mengingat angka resistensi terhadap amantadin dan oseltamivir yang meningkat dengan pesat dalam beberapa tahun terakhir ini.

(hnz)