“It’s really important for people who are HIV positive to reach out to let other people know that they can be tested, they can find out they can still live a life — a positive life, a happy life.”

(Laura Bush)

  1. Infeksi HIV bersifat seumur hidup, tidak dapat disembuhkan, hanya dapat dikendalikan. Seseorang dengan HIV positif, walaupun dengan pengendalian yang baik, harus selalu dianggap infeksius. Walaupun demikian diagnosis positif HIV tidak selalu bermakna prognosis yang buruk.
  2. Peluang penularan HIV terbesar adalah pada hubungan seksual yang tidak terproteksi; baik vaginal maupun anal; dan baik hetero maupun homoseksual. Penularan lewat jarum suntik ditemukan pada 1 dari 300 kasus. Penularan juga dapat terjadi lewat hubungan fetomaternal (dari ibu ke anak lewat plasenta, proses persalinan, maupun melalui ASI). Penularan lewat transfusi darah hampir pasti menyebabkan resipien menjadi positif HIV juga, namun saat ini sudah sangat jarang ditemukan (kurang dari 1 kasus per 500.000 transfusi darah).
  3. Peluang seorang ibu menularkan HIV kepada janin yang dikandungnya kira-kira sebesar 30-35%, akan tetapi dengan terapi pengendalian jumlah virus, peluang tersebut berkurang menjadi kurang dari 2%.
  4. Gejala tersering yang ditemukan pada seseorang yang baru terinfeksi virus HIV antara lain demam lama, kelelahan yang berkepanjangan, dan limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening). Dapat disertai dengan ruam kulit, faringitis, nyeri otot-sendi, mual muntah, diare berkepanjangan, penurunan berat badan, dan gejala gangguan sistem saraf pusat (neurologis). Gejala ini dapat ditemukan dalam 1-8 minggu setelah awal infeksi, berlangsung selama 1-3 minggu, dan terjadi akibat respons imun spesifik terhadap HIV yang timbul secara akut. Sekitar 80% pasien HIV baru akan mengalami gejala-gejala ini.
  5. Diagnosis HIV ditegakkan lewat pemeriksaan antibodi spesifik (anti-HIV). Pada fase akut infeksi HIV, belum ada antibodi yang terbentuk. Pembentukan antibodi ini membutuhkan waktu sampai 2-12 minggu berikutnya, jadi seseorang yang baru saja mendapatkan infeksi HIV tidak dapat langsung didiagnosis positif HIV pada saat itu juga. Metode diagnostik HIV standar adalah dengan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay, uji reaksi antigen-antibodi secara enzimatik) yang dikonfirmasi dengan western blot. Antigen yang dicari dengan metode ELISA adalah antigen p24. Sedangkan western blot mencari dua dari tiga antibodi terhadap protein HIV; yaitu p24, gp41, dan gp120/gp160. Diagnosis baru ditegakkan apabila hasil uji ELISA dan Western blot sama-sama positif.
  6. western blot resultKonfirmasi diagnosis HIV dengan Western blot diperlukan karena ELISA merupakan uji yang sangat sensitif. Uji HIV ELISA dapat memberi hasil positif palsu pada penyakit autoantibodi, penyakit pada hepar, gangguan fungsi ginjal, keganasan hematologik (termasuk limfoma dan leukemia), orang yang baru divaksinasi terhadap penyakit infeksi virus, dan penyakit infeksi virus akut lainnya.
  7. Diagnosis HIV tidak berarti AIDS. Diagnosis infeksi HIV dikatakan bermakna apabila ditemukan antibodi terhadap HIV dalam tubuh seseorang. Sedangkan AIDS baru didiagnosis apabila seseorang yang sebelumnya sudah positif terinfeksi HIV mengalami minimal satu dari gejala-gejala full-blown yang berkaitan dengan penurunan imunitas tubuh yang berat. Gejala full-blown dapat berupa infeksi oportunistik (infeksi oleh mikroorganisme yang pada individu dengan imunitas normal tidak berbahaya; namun pada orang dengan HIV positif dapat menjadi berbahaya), dan berupa keganasan. Contoh infeksi oportunistik antara lain kandidiasis, sarkoma Kaposi, limfoma, pneumonia Pneumocystis carinii, toksoplasmosis otak, infeksi kriptokokus ekstrapulmonal, dan retinitis sitomegalovirus (CMV).
  8. Dalam terapi pengendalian infeksi HIV, sering digunakan istilah hitung sel T (T-cell count). Hitung sel T adalah pemeriksaan laboratorium terhadap jumlah sel limfosit CD4+, yang merupakan sel T-helper dan berperan penting pada imunitas seluler seseorang. Sel limfosit inilah yang menjadi sasaran virus HIV. Jumlah hitung sel T rendah menunjukkan rendahnya imunitas seluler seseorang, sehingga dengan sendirinya menggambarkan prognosis dan keberhasilan terapi pengendalian infeksi HIV. Jumlah hitung sel T normal adalah 800-1000. Salah satu kriteria AIDS adalah apabila hitung sel T-nya kurang dari 200.
  9. Aspek lain yang tidak lepas dari hitung sel T adalah viral load. Viral load adalah pemeriksaan terhadap jumlah mRNA virus HIV, yang menggambarkan kecepatan replikasi virus HIV. Semakin banyak viral load, artinya mRNA virus HIV terdapat dalam tubuh seseorang dalam jumlah besar, dan menunjukkan prognosis yang buruk. Uji viral load sudah terbukti sebagai uji tunggal yang cukup bermakna prognostik dan untuk menilai keberhasilan terapi kontrol. Dalam 24 minggu setelah mulai terapi, biasanya jumlah viral load sudah tidak dapat dideteksi (<50 mRNA/mL). Tujuan terapi pengendalian HIV sampai saat ini adalah mencapai jumlah viral load di bawah ambang deteksi. Seseorang dengan viral load tak terdeteksi TETAP INFEKSIUS dan TIDAK BERARTI SEMBUH dari infeksi HIV.
  10. Pencegahan HIV hanya dapat dilakukan dengan pengendalian gaya hidup; yaitu perhatian terhadap keamanan hubungan seksual dan tidak berbagi jarum suntik untuk tujuan apapun.

(hnz)