Warna

Cairan serebrospinal normal tidak berwarna. Adanya warna pada cairan ini biasanya menunjukkan hal abnormal.

  • Xantokrom (kekuningan): perdarahan subarakhnoid, meningitis tuberkulosis, dan neonatus normal.
  • Kuning: hiperbilirubinemia, hemolisis.
  • Oranye: hiperkarotenemia, hemolisis.
  • Merah muda: hemolisis.
  • Hijau: hiperbilirubinemia, meningitis bakterial.
  • Coklat: meningitis melanomatosis.

Hitung sel

Cairan serebrospinal normal hanya mengandung 0-5 leukosit/mm3.

Pada pasien meningitis purulen (bakterial), dapat ditemukan jumlah sel lebih dari 100-1000 leukosit/mm3. Jumlah sel lebih dari normal, tapi kurang dari 100, dapat ditemukan pada meningitis viral. Penyebab jumlah sel di cairan serebrospinal meningkat selain infeksi antara lain penyakit keganasan, perdarahan intraserebral, dan setelah serangan kejang.

Dominasi sel netrofil atau sel polimorfonuklear (PMN) dapat ditemukan pada meningitis bakterial stadium awal. Dominasi eosinofil cukup sering berkaitan dengan meningitis atau ensefalitis oleh parasit. Sedangkan dominasi limfosit-monosit (mononuklear / MN) ditemukan pada meningitis viral, tuberkulosis, atau fungal.

Protein

Protein pada cairan serebrospinal normal mengandung 18-58 mg/dL protein.

Peningkatan protein dapat terjadi akibat infeksi, perdarahan, multiple sclerosis, dan keganasan. Sedangkan protein yang rendah mungkin ditemukan pada bayi atau anak berusia di bawah 2 tahun dan pada intoksikasi air. Hipoproteinemia atau hipoalbuminemia tidak menyebabkan protein cairan serebrospinal menurun.

Glukosa

Glukosa pada cairan serebrospinal biasanya sama dengan 2/3 kali glukosa darah orang yang bersangkutan 2-4 jam sebelumnya.

Satu-satunya penyebab peningkatan glukosa pada cairan serebrospinal adalah diabetes melitus. Namun glukosa cairan dalam kasus ini tidak pernah melebihi 300 mg/dL.

Penurunan glukosa cairan serebrospinal biasanya disebabkan infeksi. Infeksi bakteri menyebabkan glukosa turun sampai sangat rendah, namun infeksi virus yang hanya menyebabkan glukosa turun sedikit. Pemeriksaan ini tidak selalu sensitif menyingkirkan infeksi karena 50% pasien meningitis menunjukkan kadar glukosa cairan serebrospinal normal.

Kultur

Untuk menyingkirkan atau mengkonfirmasi diagnosis infeksi, baik ensefalitis maupun meningitis, dapat dilakukan kultur cairan serebrospinal terhadap beberapa mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimaksud antara lain pneumococcus, meningococcus, Haemophilus influenza (bakteri), Enterovirus (virus), Mycobacterium tuberculosis (tuberkulosis), dan Cryptococcus neoformans (fungal). Dalam kasus tertentu mungkin juga perlu diperiksa kemungkinan toksoplasmosis.

Perbandingan hasil analisis cairan serebrospinal pada meningitis dari berbagai penyebab dapat dilihat pada gambar berikut.

analisis csf meningitis

Selain pemeriksaan rutin di atas, kadang juga diperiksa uji aglutinasi lateks untuk Haemophilus influenza dan PCR (polymerase chain reaction). Aglutinasi lateks merupakan uji antigen-antibodi yang bermanfaat pada kasus meningitis Haemophilus yang sudah mendapat pengobatan sebagian; karena pemeriksaan kultur pada kasus ini mungkin memberi hasil negatif. Sedangkan PCR merupakan pemeriksaan paling sensitif untuk berbagai jenis penyebab infeksi sistem saraf pusat, namun biayanya masih cukup tinggi dan belum tersedia di seluruh laboratorium.

Sumber: American Family Physician, 2003

(hnz)