Sebelumnya di golongan darah manusia…. Pada bagian-bagian terdahulu telah dibahas apa itu golongan darah, apa yang menjadi ciri biologis suatu golongan darah tertentu, bagaimana golongan darah diturunkan dalam keluarga, distribusi ras, perbedaan golongan darah dalam kasus obstetri, perubahan golongan darah, dan peran medis golongan darah.

Apa yang sebenarnya ditransfusikan pada transfusi darah?

Darah yang ditransfusikan dapat berupa darah lengkap (whole blood) yang mengandung semua komponen plasma (bagian cair darah) dan seluler (bagian padat darah); ataupun hanya berupa komponen tertentu saja. Komponen darah yang sering ditransfusikan secara spesifik antara lain packed-red-cells (PRC, eritrosit), thrombocyte concentrate (TC, trombosit), kriopresipitat (konsentrat beberapa faktor pembekuan darah seperti fibrinogen dan antihemofilia A), dan fresh frozen plasma (FFP, plasma).

Apakah darah yang ditransfusikan selalu harus sama golongannya? Adakah faktor lain yang perlu dipertimbangkan?

Pertimbangan utama dalam transfusi darah, khususnya yang mengandung eritrosit, adalah kecocokan antigen-antibodi eritrosit. Mengapa demikian?

Golongan darah AB secara teoritis merupakan resipien universal, karena memiliki antigen A dan B di permukaan eritrositnya, sehingga serum darahnya tidak mengandung antibodi (baik anti-A maupun anti-B). Karena tidak adanya antibodi tersebut, berarti darah mereka (lagi-lagi, secara teoritis) tidak akan menolak darah golongan manapun yang berperan selaku donor, dengan kata lain mereka boleh menerima darah dari semua golongan darah lainnya. Sedangkan golongan darah O secara teoritis merupakan donor universal, karena memiliki antibodi anti-A dan anti-B. Darah yang diberikan diharapkan tidak memicu reaksi imunitas dari resipien, dengan kata lain mereka boleh memberikan darah ke semua golongan darah lain, termasuk golongan A dan B.

Benarkah teori ini bisa dipakai pada semua metode transfusi darah? Misalnya kita ambil contoh ekstrim di mana seorang golongan darah O mendonorkan darah untuk golongan AB. Plasma darah donor mengandung kedua aglutinin (anti-A dan anti-B). Sedangkan sel darah merah resipien mengandung kedua aglutinogen (antigen A dan antigen B). Tentu saja masih terjadi reaksi imunologis yang ujung-ujungnya aglutinasi juga. Karena itulah konsep O sebagai donor universal dan AB sebagai resipien universal hanya berlaku untuk transfusi PRC, TIDAK BERLAKU UNTUK DARAH LENGKAP.

Faktor yang perlu diperhatikan dalam donor darah lengkap adalah plasma dan antigen baik dari donor serta resipien. Dalam kasus ini golongan darah donor dan resipien harus sama persis. Sedangkan konsep donor universal tadi bisa digunakan untuk PRC, di mana hanya faktor antigen donor dan plasma resipien yang diperhatikan. Namun untuk menghindari hal yang tidak diinginkan (kemungkinan sekecil apapun pasti ada…), darah yang didonorkan diusahakan semaksimal mungkin sama golongannya dengan golongan darah si penerima; agar reaksi semacam itu tidak terjadi. Apabila kondisi sangat mendesak, baru boleh dipikirkan konsep donor darah universal.

Tabel kesesuaian golongan darah donor dan resipien

Tabel kesesuaian golongan darah donor dan resipien

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah faktor Rh. Seorang Rh (-) yang belum memiliki anti-D namun menerima donor darah Rh (+) akan mengalami reaksi sensitisasi terhadap antigen D. Untuk wanita hal ini dapat berbahaya bagi kehamilan (sudah dibahas di bagian kedua). Sekali saja seorang Rh (-) terpapar darah Rh (+); jika kali berikutnya ia kembali terpapar darah Rh (+), maka reaksi transfusi yang timbul dapat sangat berbahaya. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Jika seorang Rh (+) mendapat darah dari donor Rh (-), darah Rh (-) itu sudah lepas dari sistem imunitas si donor, sehingga tidak akan terjadi reaksi sensitisasi. Dengan kata lain, sistem imun orang Rh (+) tidak bereaksi imunologis terhadap paparan darah Rh (-).

Benarkan ada beberapa tipe golongan darah A? Amankah memberikan donor darah A kepada resipien A yang berbeda subtipe?

Golongan darah A terdiri atas 20 subgrup, di mana A1 dan A2 adalah dua yang terbanyak, meliputi masing-masing hampir 80% dan hampir 20% individu. Subtipe semacam ini, sejauh ini tidak mengganggu transfusi darah.

Apa itu weak D?

Nilai negatif dari uji antigen D yang meragukan. Kasus yang sering ditemukan pada orang Afrika ini dulu pernah disimbolkan sebagai Du (tapi simbol ini jarang dipakai, sehingga tidak berlaku lagi sekarang). Hal ini terjadi karena perubahan struktur permukaan eritrosit, sehingga reaksi pemeriksaan Rh dapat memberikan hasil variabel. Dalam mendonorkan darah, orang dengan weak D harus dianggap sebagai Rh positif. Sebaliknya waktu menerima darah, keharusan menganggap orang ini sebagai Rh negatif masih diragukan, walaupun pada praktiknya biasa orang weak D mendapat darah Rh negatif. Kondisi yang membingungkan ini membuat orang weak D mungkin saja tidak dapat melakukan transfusi darah autolog!

Adakah perbedaan aturan donor dan resipien plasma darah (pendonoran darah tanpa komponen seluler)?

Untuk plasma darah, faktor yang perlu diperhatikan hanya antibodi saja. Golongan darah AB tidak memiliki antibodi dalam plasma, sehingga secara teoritis boleh didonorkan ke semua golongan darah. Sedangkan golongan darah O yang memiliki anti-A dan anti-B (lagi-lagi, teoritis) diharapkan tidak memberikan perlawanan terhadap plasma yang masuk, baik apakah itu mengandung anti-A ataupun anti-B. Jadi dalam pendonoran plasma, AB berperan sebagai donor universal teoritis dan O sebagai resipien universal teoritis.

Apa yang membedakan golongan darah O biasa dan O bombay?

Golongan darah O bombay memiliki genotipe hh, di mana mereka tidak mampu mengekspresikan antigen H pada eritrositnya akibat mutasi fukosiltransferase, enzim yang diperlukan untuk menghasilkan substansi H. Karena itu golongan darah ini disimbolkan sebagai Oh. H merupakan substansi yang berperan sebagai prekursor (prasyarat) untuk mengekspresikan antigen A dari gen A atau antigen B dari gen B. Struktur H sendiri terdiri atas karbohidrat fukosa. Jika seseorang tidak mampu mengekspresikan antigen H, otomatis gen A maupun gen B dari orang tuanya tidak muncul dalam bentuk antigen, sehingga eritrosit orang tersebut tidak memiliki antigen. Terlihat genotipe O. Namun jika mereka menerima darah dari golongan O biasa, timbul reaksi imunologi. Hal ini kemungkinan disebabkan darah mereka bereaksi terhadap antigen H pada golongan darah O.

Mekanisme substansi H membentuk antigen A atau B

Mekanisme substansi H membentuk antigen A atau B

Sebagai perbandingan:

  • O Rh (+): antigen H ada, antigen D ada, aglutinogen A tidak ada, aglutinogen B tidak ada
  • O Rh (-): antigen H ada, antigen D tidak ada, aglutinogen A tidak ada, aglutinogen B tidak ada
  • O bombay: antigen H tidak ada, antigen D variabel (bisa ada bisa tidak), aglutinogen A tidak ada, aglutinogen B tidak ada

Berdasarkan perbandingan di atas, golongan darah O bombay, seperti halnya O Rh (+), dapat dianggap sebagai donor universal di kalangan golongan darah Rh (+). Masalahnya apabila mereka yang berada di posisi “memerlukan donor”, karena donornya juga harus bergolongan darah O bombay. Pemberian darah biasa dapat mengakibatkan reaksi aglutinasi antara antigen H darah donor dan antibodi anti-H dari si resipien. Dan biasanya darah langka ini tidak tersedia di palang merah atau bank darah (apalagi kalau kejadiannya bukan di India!).

Sekedar informasi: golongan darah ini pertama kali ditemukan oleh Bhende dkk. di Mumbai, India pada tahun 1952. Frekuensi orang dengan golongan darah O bombay di seluruh dunia diperkirakan 1 dari 250.000 orang, namun di India angka ini lebih besar (1 dari 7500 orang). Saat ini golongan darah langka ini paling banyak ditemukan di negara bagian Maharashtra, bagian barat India. Golongan darah ini disebut langka karena, di Mumbai sendiri donornya hanya tersedia 35-40 orang; dan di India seluruhnya hanya ada 179 orang (Int J Hum Genet 2005, 5(3): 193-98). Di Indonesia pernah ditemukan 2 kasus golongan darah O bombay, keduanya pada anak perempuan. Masing-masing pada tahun 1976 dan 1978 (Irawan & Rustam, 1978). Tapi setelah itu kasus semacam ini belum pernah terdengar lagi (sejauh yang saya tahu. Mungkin ada yang tahu atau pernah dengar?).

Golongan darah apakah yang sebenarnya disebut donor darah universal? Apakah semua O, O Rh (-), atau O-bombay? Lalu siapa yang sebenarnya disebut resipien darah universal?

Secara teoritis, golongan darah universal hendaknya merupakan golongan darah yang tidak memiliki antigen sama sekali, agar aglutinin resipien tidak “melakukan reaksi perlawanan”. Golongan darah O Rh (-) telah diterima sebagai donor darah universal secara luas. Hal ini disebabkan darah tersebut tidak memiliki antigen imunogenik (antigen A, antigen B, dan antigen D) sehingga diharapkan tidak terjadi reaksi imunologik jika dimasukkan ke tubuh resipien. Golongan darah O Rh (+) dan O bombay hanya diterima sebagai donor universal di kalangan semua orang yang memiliki Rh (+) (kecuali, tentu saja, orang bergolongan darah O bombay Rh negatif). Tidak diketahui apakah O bombay Rh negatif dapat menjadi donor universal (walaupun secara teoritis mungkin saja).

Sebaliknya, golongan darah AB Rh (+) yang memiliki semua antigen, merupakan resipien universal. Konsepnya sama; karena sel darah golongan ini memiliki semua antigen, aglutinin dari plasma darah apapun yang masuk tidak akan menimbulkan reaksi imunologis terhadap darah resipien.

Sekian pembahasan saya mengenai golongan darah manusia, mudah-mudahan bermanfaat bagi rekan-rekan semua, khususnya dalam pemahaman konsep transfusi darah. Jika ada informasi yang mungkin kurang tepat, saya menerima kritik dan saran dari Anda semua.


(hnz)

About these ads